Lewati ke konten

Peristiwa

Maaf, Saya Gagal Meliput Sinau Bareng Kiai Kanjeng

September 11, 2025

Maaf, Saya Gagal Meliput Sinau Bareng Kiai Kanjeng

Saya gagal. Saya mengaku kalah. Saya cuma bisa ndeprok di kaki pohon bodhi.

Tembang terdengar sampai sini. Mengalun, menyelisih daun-daun.

Ya Allah berikanlah selawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad; dan sibukkanlah orang-orang zalim agar mendapat kejahatan dari orang-orang zalim lain.

Doa Kemarau Politik yang Teramat Panjang
Kata kaum terpelajar

Supaya negara kuat
Rakyat harus lemah

Jaman wis akhir, jaman wis akhir bumine goyang
Akale njungkir, akale njungkir negarane guncang

Di atas panggung itu Kiai Kanjeng memainkan baris-baris dari album Kado Muhammad. Tak ada Mbah Nun di sana, tetapi saya haqqul yaqin beliau sesungguhnya hadir, duduk ber-tahiyyat di atas sana. Mas Sabrang sendiri belum kelihatan.

Malam yang ramai sebenarnya. Helmi Mustofa menemani Kiai Kanjeng. Ada pula Pak Kurniawan selaku Kepala Dinas DPAD DIY, Mas Wawan Arif selaku Ketua IKAPI DIY, dan Mas Edi dari Bacabuku.com. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Kerumunan orang memadati halaman Grhatama Pustaka (9/9/2025). Tak hanya mereka yang menggunakan vest berlambang caknun.com, tetapi juga yang mengenakan kaus band The SIGIT. Tak hanya mereka yang berkain kerudung dan kesulitan bergerak, tetapi juga yang berkain minim dan bebas bergerak.

Tetapi, terasa kenangan datang memerangkap. Acak, meledak-ledak. 

Betapa, goyangan-goyangan, tunjangan … wajah Almarhum Affan, Almarhum Rheza, Almarhum … puing-puing Polda DIY, bertumpuk bangkai gosong videotron … kabar polisi naik pangkat … kalau 17+8 bagaimana kabarnya … duh … Banyak, banyak sekali yang mesti dapat tempat. Banyak sekali yang mesti dicatat. 

Namun, saya cuma bisa ndeprok di kaki pohon bodhi. 

Mberebes mili. 

Panas di pipi. 

***

Lantaran malu, saya mengendap-endap menuju tenda. Sudah besar kok menangis. Saya mesti sembunyi. Tenda di sebelah panggung adalah ruang tertutup.

Di sana hanya ada seorang operator siaran langsung. Lelaki itu tua, dengan karisma yang tumbuh pada tebal kumisnya. Amit sewu, izin nunut di sini, mau meliput, rayu saya. Ia mengizinkan. Sampean dari media mana, tanyanya. Ah, saya panitia, jawab saya. Kemudian ia menyarankan, “Nanti bisa putar siaran ulang di You Tube kalau ada yang terlewat.”

“Oh, iya, Pak. Matur sembah nuwun. Itu sangat membantu.”

Lelaki tua itu tersenyum. Saya pun duduk, menyandar di pojok, lalu merangkul lutut.

***

Saya gagal. Saya mengaku kalah. Saya kewalahan memadatkan peristiwa yang memancarkan banyak dimensi. Apa yang dilakukan lelaki tua tadi lebih masuk akal. Siaran langsung. Ketimbang mereduksi Sinau Bareng Kiai Kanjeng bersama Sabrang MDP ini, yang berlangsung selama kurang lebih enam jam, menjadi feature 700-1000 kata. Lebih sesuai dengan dawuh Mas Sabrang soal literasi yang hakiki.

Mula-mula Sabrang Mowo Damar Panuluh atau dikenal sebagai Noe Letto itu menyampaikan bahwa literasi bukan hanya membaca. Ia bercerita bahwa manusia punya satu limitasi dasar. Manusia hanya bisa mengalami dirinya sendiri. Padahal, untuk menghidupi hidup, manusia jelas perlu pengalaman orang lain, bahkan, entitas lain. Untung saja manusia punya satu alat canggih, yakni bahasa.

Tak dapat ditolak, kita adalah makhluk yang mengobrol. Kita saling bertukar pengalaman dalam kegiatan mengobrol. Sebagai contoh, Jogja Book Fair 2025 ini, yang berlangsung selama sebelas hari ini, akan mustahil terselenggara tanpa adanya obrolan. Mengapa kita perlu mengadakan festival di kota pendidikan? Siapa saja yang akan diundang? Lokasinya nanti di mana? Lho, kok kamu lagi yang mengurus? Eh, sudah makan belum? Dan lain-lain.

Sayangnya, mengobrol pun punya limitasi juga. Karenanya manusia butuh menulis. Tanpa ditulis, pengalaman akan mati bersama yang mengalami. Maka manusia mulai menulis di batu. Kita bisa melihatnya di relief-relief candi atau tembok-tembok piramida. Kalau dalam One Piece, kita pasti mengenal Poneglyph. 

Tetapi, lagi-lagi ada limitasi. Bagaimanapun, bangunan-bangunan itu terbatas ruangnya. Terpaksa, pengalaman pun dibuat padat. Dipakailah simbol, perumpamaan, juga kiasan. Pada zaman itu, yakinlah, tak ada manusia yang membayangkan bakal menulis di daun lontar, yang, kemudian berevolusi menjadi kertas.

Dan nyatanya, jangankan kertas, kini kita, manusia, akrab pula dengan internet. Kita bisa mengakses apa saja, di mana saja, selama ada ponsel dan sinyal.

Maka, maaf, saya gagal meliput.

Tetapi, di sisi lain, perlu rasanya kita formulasikan kembali soal baca-membaca ini.

Ya. Mengapa tidak mengakses tautan siaran ulang saja? Ini.

***

Tak ada manusia yang kepingin gagal. Begitu pun saya yang sedang menulis. Tetapi, Mas Sabrang ada sampaikan sebaris lanjutan. Seribu kegagalan bakal dimaafkan lantaran satu keberhasilan.

Apakah kegagalan itu? Mas Sabrang melanjutkan, kegagalan ialah akibat dari mengambil keputusan yang salah serta data yang kurang menyeluruh. Semata kebalikan dari berhasil, yakni akibat dari mengambil keputusan yang tepat, serta pengambilan data yang lengkap.

Itu semua dimasukkan Mas Sabrang dalam ide soal pengalaman. Maka, alurnya begini. Kalau mau berhasil, kita mesti mengambil keputusan yang tepat dengan data yang lengkap. Kalau mau mengambil keputusan yang tepat, kita mesti pernah mengambil keputusan yang salah. Semua itu dapat kita peroleh dari pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, sekali lagi, entitas lain. Di situlah esensi dari kegiatan “membaca yang tidak sekadar”, yaitu literasi yang hakiki.

Apabila dikatakan keberhasilan mensyaratkan kegagalan, kira-kira demikianlah gambarannya.Dan, sebab tak ada manusia yang kepingin gagal, begitu pun Anda sekalian yang sedang membaca tulisan ini. Jadi, yang terpenting, agaknya, ialah sinau bareng. Hanya dengan begitu, kita dapat mencapai maqom migunani.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.