Lewati ke konten

Peristiwa

Membaca Historiografi Perempuan Mataram: Antara Bakti dan Perlawanan

September 9, 2025

Membaca Historiografi Perempuan Mataram Antara Bakti dan Perlawanan

Langit cerah membungkus kotamu sore itu, secerah wajah gadis-gadis yang dilukis Romo Mangun pada permulaan novelnya, Rara Mendut. Mereka adalah para perawan remaja yang gesit, perempuan-perempuan muda dini yang berjiwa jantan, cerdas, dan disebutnya Srikandi khas Bahari.

Kau tiba di Grhatama Pustaka pukul tiga. Sambil menanti perbincangan dimulai, kau menambatkan ingatanmu pada nama-nama perempuan dalam trilogi Romo Mangun. Sepuluh menit berlalu. Dipandu Mas Hendrik Efriyadi, Dr. Sri Lestari, M.Pd. sebagai penulis buku Historiografi Perempuan Mataram, dan Dr. Achmad Sultoni, M.Pd. sebagai pengulas, perbincangan pun melaju dalam gelaran yang terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Angin kemarau merengkuh hangat. Cahaya matahari dari barat. Kau turut larut dan mencatat.

Puisi Isteri karya Darmanto Jatman yang dibacakan Mas Toni membuka perbincangan tentang peran perempuan. Dari sana ia tekankan perempuan sebagai “ibu bumi”, sumber kehidupan sekaligus penopang. Namun, dalam budaya Jawa, perempuan sering dilekatkan pada istilah konco wingking—sekadar pelengkap. Mas Toni pun menggugat, apakah hari ini perempuan sudah benar-benar mendapat peran yang agung?

Pertanyaan itu mengantar pada pembahasan buku Historiografi Perempuan Mataram karya Sri Lestari. Disertasi yang menjelma menjadi buku itu menelaah tujuh novel berlatar sejarah Mataram: Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri karya Y.B. Mangunwijaya; Rara Mendut karya Ajip Rosidi; Amangkurat Agung karya Wahyu HR; Gadis-Gadis Amangkurat karya RH Widada; dan Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara. Melalui dua pisau analisis—hegemoni patriarki dan interseksionalitas—Sri Lestari menyingkap wajah lain perempuan Mataram.

Sejak dahulu, ungkap Mas Toni, perempuan hanya ditempatkan sebagai pelengkap laki-laki dan ruang geraknya dibatasi oleh dominasi. Namun, temuan Mbak Tari membalik pandangan itu. Di masa lalu, perempuan tak hanya menjadi garwa, selir, atau dayang, tapi juga tampil sebagai prajurit, pemimpin, bahkan penggerak politik dan ekonomi.

Tokoh-tokoh perempuan dalam novel yang dikaji diharapkan membangkitkan kesadaran kritis pembaca tentang kapan ia sedang didominasi dan kapan ia harus melawan. Sebab, begitu kesadaran itu lahir, jalan menuju perubahan pun terbuka, dan nasib tak lagi ditentukan oleh kuasa laki-laki semata.

Hegemoni bahasa yang ditemukan Mbak Tari dalam novel Rara Mendut karya Romo Mangun menunjukkan bahwa kaum ningrat memiliki bahasa yang unik, tertata, santun, berwibawa, dan merupakan bahasa yang tertinggi. Artinya, siapa pun, termasuk perempuan, apabila hendak menjadi bagian yang berwibawa tadi, ia haruslah mempelajari bahasa-bahasa yang dipakai oleh kaum ningrat. Itu suatu pengetahuan yang bagi kita biasa saja. Akan tetapi, apakah bahasa yang di luar itu tidak bermutu tinggi atau tidak baik untuk digunakan? Dan di sinilah hegemoni bahasa bekerja–hal yang mungkin oleh masyarakat umum tidak dipertanyakan. 

Di istana Mataram, perempuan dijadikan aset politik. Begitu dipilih jadi permaisuri, dayang, atau selir, tak ada ruang menolak. Hegemoni ini, sialnya, dianggap wajar dalam budaya Jawa, jarang digugat apalagi dikritisi. Lewat kacamata interseksional, Mbak Tari menunjukkan diskriminasi yang merayap ke segala sisi: dari ras, status, hingga kelas sosial. Perempuan entah ia permaisuri, garwa ampeyan, priyayi, calon selir, emban, abdi dalem, bahkan yang elit sekalipun—semuanya kena jerat. Menjadi perempuan saja sudah terdiskriminasi, apalagi ditumpuk dengan kelas sosial.

Permaisuri memang tampak bergengsi, tapi sering dipaksa ikut permainan politik, bahkan menjalankan perintah yang tak ia setujui. Sementara itu, selir, meski dianggap “beruntung” jadi istri raja, tetap saja terjebak dalam ketidaksetaraan gender. Singkatnya, baik di atas maupun di bawah, perempuan tetap jadi korban kuasa.

Mas Toni menilai Historiografi Perempuan Mataram penting karena literatur tentang perempuan Mataram sangat jarang. Buku ini menyingkap bahwa perempuan di masa lalu tak melulu terbelakang. Mereka berjuang dan banyak yang memegang peran agung. Mas Hendrik menambahkan, novel-novel yang dikaji memperlihatkan relasi timpang di mana  perempuan kerap dijadikan objek, bukan subjek yang menentukan dirinya.

Mbak Tari menegaskan pandangannya. Identitas perempuan selalu berlapis. Justru di era paling patriarkis, ketika feodalisme laki-laki berkuasa, muncul sosok-sosok hebat. Ia menyebut Dewi Suhita dan Tribhuanatunggadewi dari Majapahit dan serta Gayatri yang mendidik empat raja sekaligus. Dari sana, sejarah perempuan terlihat sebagai penuntun arah zaman.

Mataram Islam pada era Sultan Agung hingga Amangkurat I digerakkan oleh peran perempuan. Keberadaan mereka kerap menentukan nasib politik. Tumenggung Singaranu, misalnya, luput dari hukuman mati karena putrinya menjadi selir raja. Sang putri adalah selir dan abdi yang diangkat bukan sekadar karena paras, melainkan karena kecerdasan dan keterampilan yang memberi mereka nilai tawar di tengah dominasi patriarki.

Perempuan kala itu memang hidup di tengah hegemoni, namun mereka tetap berjuang. Ada yang menjadi prajurit, bahkan mahir berkuda—keahlian yang memberi hak-hak istimewa sekaligus menempatkan mereka pada posisi unik secara interseksional. Ada pula yang menjadi juru masak atau juru lagu yang menghadirkan hiburan sekaligus pelipur lara bagi raja. Keterampilan khusus membuat mereka bertahan dan bahkan memengaruhi arah kekuasaan.

Namun, pada saat yang sama, perempuan juga menjadi objek kekuasaan. Di masa itu, semua perempuan adalah milik raja, bahkan yang telah bersuami. Kisah Kanjeng Ratu Wetan menjadi contoh. Ia istri seorang dalang yang bersuara merdu, hingga raja menginginkannya. Hanya keberaniannya sendirilah yang bisa menjadi penolak takdir. Maka, jika menilik perpolitikan Mataram, sesungguhnya otak dan daya perempuan ada di sana. Mereka adalah penopang, penentu, sekaligus pemberontak di balik takhta.

Mataram Islam pernah berpusat di Yogyakarta. Daerah di luar benteng keraton disebut mancanagara, salah satunya wilayah pesisir pantai utara: Pati, Kudus, Demak, Rembang, dan sekitarnya. Dari kawasan inilah muncul gelombang pembangkangan. Adipati Pragola menolak membayar pajak sesuai ketentuan kerajaan, dan perlawanan itu dianggap ancaman bagi Mataram. Tumenggung Wiraguna ditugasi menumpasnya. Kepala Pragola akhirnya dibawa ke hadapan Sultan Agung sebagai tanda menyerahnya Pati, sementara para perempuan adipati dijadikan pampasan perang.

Dari pesisir lahirlah Roro Mendut, putri nelayan yang ceplas-ceplos sekaligus berani menantang raja—kontras dengan para selir yang bungkam di bawah kuasa istana. Perlawanan Mendut tak berhenti pada kematiannya. Benih itu tumbuh dalam langkah sahabat-sahabatnya: Genduk Duku mengajar perempuan membatik di Bagelen, menjual hasilnya langsung ke VOC hingga lahir pusat batik alternatif. Lusi Lindri memilih jalan sebagai prajurit perempuan. Dari menjahit, membatik, hingga mengangkat senjata, mereka menanamkan nilai kemandirian dan keberanian bagi perempuan lain. Itulah semangat yang, menurut Mbak Tari, masih relevan untuk ditarik ke era sekarang.

Di luar sana, lembayung senja meluruh. Tiga sosok di panggung itu mencukupkan perbincangan. Sambil mengemasi alat catat, kau teringat adegan Pambayun dalam naskah drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. Putri Panembahan Senopati itu bersimpuh dalam dilemanya. Barangkali, sebagaimana Pambayun, perempuan selalu berdiri di antara cinta, bakti, dan kebebasan. Dan dari sinilah sejarah tak hendak berhenti. Demikianlah, perempuan adalah rahim semesta.

Berjalan dan terkekang
Harap temukan kebebasan
Cinta ajarkan kesetiaan
Bakti ajarkan pengorbanan

Kau pun pulang. Dan kepalamu nembang sepanjang jalan.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.