Peristiwa
Memoar Singkat tentang Menulis Memoar
September 9, 2025
Tak ada yang tahu kapan perempuan tua itu tiba pada Senin siang (8/9/2025) di Grha Pustaka. Tiba-tiba saja, ia telah duduk di salah satu kursi berkain putih di depan Panggung Utama Jogja Book Fair 2025. Peserta lain belum kelihatan.
Bedak di wajahnya dan gincu merah di bibirnya seolah ingin menunjukkan bahwa jiwanya masih menyala. Rambutnya pun tertata rapi–layaknya rambut gadis masa kini, ada bagian yang disanggul dan ada yang diurai. Tetapi, keriput yang tetap saja tampak jelas di sana sini gagal menyembunyikan usianya.
Setelah seorang pemuda yang mengaku bernama Dany membuka acara, para peserta lain lantas berdatangan dan menempati kursi-kursi yang kosong. Dany mempersilakan Dio, pendiri Komunitas Menulis Memoar, untuk memulai sesi bernama lengkap “Workshop Menulis Memoar untuk Menyembuhkan Luka Batin”. Lokakarya ini adalah salah satu rangkaian acara JBF 2025, yang digelar sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Penuh semangat, Dio membuka lokakarya dengan cerita-cerita seputar literasi. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia bermimpi bisa menerbitkan buku sendiri dan mendirikan penerbit sendiri. Nyatanya, telah banyak karyanya yang diterbitkan. Ia pun telah memiliki Diomedia, sebuah penerbit buku yang ternama.
Sebelum mempresentasikan cara menulis memoar, Dio menyampaikan bahwa akan ada bintang tamu yang menemaninya. Bintang tamu ini juga seorang penulis memoar dan sudah berhasil menerbitkan sebuah buku tentang proses menyelesaikan program doktoral.
“Jadi,” Dio menjelaskan, “menulis memoar itu tidak melulu tentang patah hati. Tetapi, banyak tema yang bisa digarap, seperti bagaimana seseorang mampu membeli buku dengan cara ‘mengencangkan ikat pinggang’ (berhemat), bagaimana seseorang bisa menempuh pendidikan tinggi meskipun dari keluarga yang biasa-biasa saja, dan tema lainnya.”
Apa yang menarik dalam menulis memoar, bagi Dio, adalah bagaimana menulis menjadi sarana refleksi, menghibur diri, stress release, dan bahkan menghasilkan uang. Selain itu, menulis juga bisa menjadi media katarsis yang akan melegakan batin.
Karena itu, dalam workshop ini, Dio mengajak semua peserta untuk menuliskan luka batinnya dalam bentuk memoar. Sebab, masih menurut Dio, inilah yang akan memantik semangat seseorang untuk menyembuhkan luka batinnya sendiri (self help).
Perempuan tua itu menarik napas. Ia tahu bahwa menulis dapat menyembuhkan luka batin, tapi bagaimana caranya? Ia menunduk sejenak, lalu segera menegakkan kepalanya lagi.
Dio, bernama lengkap Ngadiyo, kemudian memanggil bintang tamunya untuk turut bicara di panggung. Nama sang bintang tamu adalah Dr. Lio Bijumes. Ia doktor bidang manajemen. Asalnya dari daerah 3T di Kalimantan Utara. Yang tak kalah menarik, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral sebelum usia tiga puluh.
Dr. Lio mengatakan bahwa seseorang hanya bisa menulis kalau ia sudah membaca. Maka, menurutnya, cinta membaca sangat penting agar bisa menulis memoar. Dari menulis memoar, ia bisa membagikan sesuatu yang positif kepada orang lain. Selain itu, menulis bisa jadi personal branding yang baik untuk dirinya.
Dio memberikan kesempatan kepada para peserta untuk bertanya. Ada enam peserta yang mengajukan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan mereka dijawab dengan jelas dan penuh perhatian oleh Dio sehingga membuat nyaman para peserta. Dr. Lio juga diberi kesempatan menyampaikan pengalamannya untuk menjawab pertanyaan peserta yang relevan.
Ketika seorang peserta bernama Rifqi bertanya tentang cara menulis dan mengetahui tema yang bisa best seller, Dio menyarankan untuk memperbanyak membaca dan menjadi anggota komunitas menulis seperti komunitas yang diampunya. Untuk pertanyaan dari Sherin, Dio menyarankan agar terus mengeksplorasi ide dan tidak patah semangat ketika ditolak penerbit. Kedua penanya itu mendapat hadiah dari Dio, masing-masing satu buku.
Peserta lain bernama Riani bertanya apakah menulis memoar bisa berakhir atau tamat. Sebab, menurutnya, pergumulan hidup seseorang itu tiada akhirnya. Riani juga meminta izin kepada Dio untuk membacakan penggalan tulisannya:
Rasa sakit, sampai lupa sakit itu apa. Menjadi (…Riani berhenti membaca, ia menangis…). Menjadi pura-pura gila adalah salah satu solusiku untuk mengobati luka hati. Dibenturkan oleh keadaan yang mengharuskan berada di titik yang sama. Sampai kapan? Ada yang bilang sampai mukjizat jadi lupa.
Perempuan tua itu terisak mendengar kata-kata Riani. Ia menyeka air mata dengan tisu. Lalu gemerincing gelang-gelang di tangannya membuatnya sadar. Dan ia teringat cucu perempuan yang meninggalkannya pada saat ia meregang nyawa. Waktu itu, tubuhnya penuh luka tusuk. Darah muncrat ke mana-mana. Si cucu pergi membawa pergi rompi besar berisi uang yang bertahun-tahun dikumpulkan perempuan tua itu.
Sementara itu, Dio di panggung sedang menanggapi Riani. Ketika menulis memoar, penulis harus membatasi ceritanya. Tidak semua hal bisa diceritakan. Maka, seorang penulis memoar harus tahu mana yang boleh dibaca oleh semua orang dan mana yang tidak. Penulis memoar juga harus tahu kapan mengakhiri tulisannya.
Ketika azan zuhur berkumandang, Dio mengakhiri lokakarya. Ia juga membagikan nomor Whatsapp. Ia mempersilakan peserta yang ingin melanjutkan diskusi atau memulai menulis memoar untuk menghubunginya.
Lalu Dio mengajak semua peserta naik ke panggung untuk foto bersama.
Perempuan tua itu tidak turut. Ia tetap duduk di kursinya. Matanya menatap kosong. Ia membayangkan cucu perempuannya berdiri di antara peserta yang berfoto itu.
Ia tahu, seorang perempuan telah bercerita kepada seorang laki-laki bernama Gabriel Garcia Marquez tentang semua kekejaman neneknya. Dan sialnya, si Marquez itu mengabarkan kepada dunia melalui cerita apik berjudul The Incredible and Sad Tale of Innoncent Eréndira and Her Heartless Grandmother.
Sungguh, bukan uang di rompi itu yang ia sesali, tetapi mengapa sang cucu kesayangan masih menjelek-jelekkannya meski ia sudah tak berjasad lagi.
“Oh, Eréndira….” keluhnya pelan.***