Lewati ke konten

Peristiwa

Bersua dengan Gagasan Tan Malaka

September 8, 2025

Bersua dengan Gagasan Tan Malaka

Mendung membekap Jogja saat saya tiba di serambi Grhatama Pustaka Yogyakarta, Ahad (7/9/2025). Sore itu, saya hendak turut dalam gelar wicara di acara Jogja Book Fair (JBF) 2025, bertajuk “Seberapa berbahaya gagasan Tan Malaka?”

Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.

Namun, hingga pukul tiga saya hanya melihat dua sosok pembicara dan segelintir orang duduk di kursi peserta. Sisanya kosong. 

Akankah diskusi ini sepi belaka? Apakah gagasan Tan memang berbahaya, sehingga ia dihindari peserta? Entah.

Beruntung. Rasa cemas saya lekas musnah. Saya keliru. Satu persatu kursi diisi peserta hingga nyaris tak bercelah. Peserta pun dihiasi tampang-tampang muda. Tampaknya, pemikiran Tan diapresiasi.

Narasumber gelar wicara itu adalah Adit MKM, seorang bookstagram yang tengah sohor dan Kuncoro Hadi, dosen sejarah UNY sekaligus penulis Kronik 1965.

Membelakangi narasumber, di panggung empat karya Tan tersemat di meja: Madilog, Gerpolek, Aksi Massa, dan Dari Penjara ke Penjara.

Pertanyaan pembuka dilontarkan moderator: bagaimana para narasumber berkenalan dengan gagasan Tan?

Kuncoro mengenang, aktivisme mahasiswa 1998-lah yang membuatnya “berkenalan” dengan sosok Tan. Saat itu, rumahnya di Klaten acap jadi tempat pelarian para aktivis. Dari seorang pelarian itulah ia tahu autobiografi Tan, Dari Penjara ke Penjara.

Sekian lama Tan Malaka memang dilumat negara: bukunya dicekal, disapu dari rak perpustakaan. Gagasannya dijauhkan dari massa rakyat —golongan yang paling ia bela. Singkat kata, setelah mati dieksekusi pada 1949, Tan Malaka “dibunuh”  berkali-kali. 

Orde Baru, kata Kuncoro, memang banyak memupus pengetahuan: buku-buku berspektrum pemikiran kiri diberangus. Itulah yang bikin nama Tan Malaka jadi angker. “Padahal dia pahlawan nasional,” kata Kuncoro.

Sebetulnya, pascareformasi ruang berekspresi terbuka, termasuk penerbitan buku-buku. Apalagi, di Jogja yang jadi pusat dunia buku, bukan hanya pemikiran kiri, tengah bahkan kanan juga terbit.

Kelak, ketika Kuncoro berkuliah di jurusan sejarah, buku-buku Tan membantunya menyadari ada yang salah dengan cara belajar sejarah. Meski kala itu telah memasuki era Reformasi, infrastruktur rezim Orde Baru ternyata belum banyak berubah.

Perkataan Kun diamini Adit. Baginya, pendidikan sejarah hanya tentang apa, siapa, dan kapan. Sementara soal “mengapa”, atau alasan di balik peristiwa, kerap lenyap. Bukankah “mengapa” adalah kata penting dalam menimbang perkara? Sejarah ciut jadi sekadar hafalan angka tanggal dan tahun.

Adit pun mengenal Tan di era keterbukaan media sosial. Kebiasaanya mengulas buku membawanya kepada Madilog yang ramai dibincangkan di dunia maya. Semula ia sangka Madilog –materialisme, dialektika, dan logika— buku yang rumit. Ia keliru.  “Setelah baca, ternyata biasa aja,” katanya. Madilog, bagi Adit, adalah serupa buku sains.

Dengan begitu, rontok sudah alasan negara takut dengan gagasan Tan, kecuali bila negara sendiri memang tak becus urus pengetahuan publik.

***

Belakangan, massa yang marah berdemonstrasi dengan turun ke jalan-jalan di berbagai kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Bali. Amarah rakyat menjalar cepat dari kota ke kota. Salah satunya dilecut oleh sikap anggota DPR yang tak peka dengan kondisi rakyat. 

Di tengah situasi tak menentu, anggota DPR malah sibuk pamer harta.

Jadilah seorang peserta gelar wicara bernama Rani bertanya tentang relevansi buku-buku Tan di tengah situasi saat ini.

Kuncoro sigap menjawab. Sejak awal terbentuknya Republik, Tan skeptis terhadap anggota Dewan. Tak jauh beda dengan kini, Dewan saat itu juga dipenuhi oleh para konglomerat dan pesohor. Mereka pun sama-sama tak punya kesadaran keberpihakan kepada rakyat. Dalam bahasa Tan, Dewan saat itu tak punya kesadaran kelas.

Kritik itu tak berhenti pada Dewan semata. Tan juga lancarkan kepada institusi partai dan ekosistem politik saat itu. Sama belaka dengan kondisi saat ini. “Apa ada partai yang ideologis saat ini?” tanya Kuncoro.

Dengan begitu, menurut Kuncoro, tuntutan pembubaran DPR saat ini bisa dipahami. Itu adalah luapan kekesalan rakyat atas sikap nirempati DPR serta iklim politik yang jumud.

***

Kuncoro menerangkan, sebagai perpanjangan negara dalam mengajarkan sejarah, kampus menghadirkan mana yang boleh dan tidak. “Di mana pun tempatnya, sejarah adalah pelajaran yang selalu direpresi,” kata Kuncoro.

Kini, era medsos menyediakan berbagai kemungkinan persebaran informasi. Media sosial tampak bisa jadi alternatif cara menyebarkan informasi —tak terkecuali buku-buku macam karya Tan. Maka itu, pendekatan-pendekatan baru oleh para bookstagram, seperti Adit, bisa jadi sarana menyebarkan seperti gagasan-gagasan Tan.

Menumpang gelombang fear of missing out (FOMO) atau waswas ketinggalan berita terbaru, para bookstagram ini mengenalkan pemikiran-pemikiran obskur.

Namun, terus-menerus ikuti gelombang tren juga mampu membuat kelelahan, fisik maupun mental. Belum lagi para bookstagram berkompetisi dalam waktu yang begitu minim.  “Saya sebagai content creator hanya punya kesempatan selama 1,5 menit,” kata Adit.

Strategi mengenalkan gagasan obskur ternyata masih perlu terus dieksplorasi.

Meski begitu, Kuncoro dan Adit bersepakat bahwa imun masyarakat kita makin kuat. Kita kian tanggap dalam merespons informasi. Koreksi bisa dilakukan langsung lewat gotong-royong oleh warga maya. Itulah salah satu ceruk kekuatan kita saat ini.

Anda sepakat?***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.