Peristiwa
Baca Puisi: Tak Semudah Menggigit Sate
September 8, 2025
Malam sebelum tidur, ponsel saya mak klunting. Ada satu direct message masuk. Dalam hati saya bertanya, mengapakah Irsyad mengirim pesan begini malam. Untuk tahu, telunjuk saya langsung menutul kolom obrolan, kemudian muncullah satu video reels. Sambil mesem, saya membatin: lumayan, hiburan menjelang tidur.
Berkirim reels dengan kawan ini punya satu aturan main. Cukup sederhana, yaitu Anda boleh mengirim reels, tetapi harus lucu. Minimal menghibur. Kalau tidak, Anda adalah pengganggu yang menyebalkan.
Saya ketuk saja kiriman si Irsyad. Seketika layar ponsel beralih menampilkan satu video vertikal. Di sana, saya melihat dua lelaki sedang duduk di kafe. Satu orang berkaus, satu lagi berkemeja. Dari arah pengambilan video, dapat diterka bahwa di meja mereka terdapat lebih dari dua orang.
Ada dua cangkir kopi di meja itu, selain juga sebotol air mineral dingin dan dompet semi tas berwarna hitam. Di sebelah kiri, lelaki berkaus itu menekuk satu lututnya, sementara lelaki berkemeja menyandarkan sikutnya di sana. Sambil mengepulkan asap rokok, lelaki berkaus menyimak lelaki berkemeja itu membaca puisi, yang juga sambil mengepulkan asap rokok.
“Menghisap sebatang lisong, melihat Indonesia Raya …”
Itu adalah video konten unggahan akun @nandikaptr. Karena penasaran, saya pun mencari tahu lebih lanjut tentang akun itu. Pada sebuah videonya yang lain, sebuah video wawancara, tertera di bawah nama Nandika Putra itu satu predikat, yakni “aktor puisi”. Dan rupanya ia adalah murid dari Iman Sholeh sekaligus kawan dari Peri Sandi Huizche.
Memang dalam video itu Mas Nandika tampak ngotot betul membaca puisinya. Saya sendiri sampai ngeri melihat rahangnya yang mengeras itu. Tetapi, di manakah letak kelucuan atau hiburan menurut Irsyad itu sebetulnya. Lagi pula, di samping Irsyad memang suka iseng, saya mesti cepat tidur. Besok pagi masih ada urusan dengan serangkaian acara lomba di DPAD DIY.
***
PAGI itu, sebagai rangkaian dari Jogja Book Fair 2025, DPAD DIY dan IKAPI DIY menyelenggarakan lomba membaca puisi. Ada dua tingkat lomba itu, yaitu SMP dan SMA.
Tugas saya waktu itu ialah membersamai tiga orang juri yang tingkat SMP. Sederhananya, selaku Liaison Officer dari para juri, saya mesti siap meluncur kalau-kalau mereka butuh sesuatu. Tiga orang itu masing-masing ialah Nora Septi Arini, Rabu Pagisyahbana, dan Polanco S. Achri.
Setelah pasti benar kenyamanan para juri, barulah acara siap dimulai. Sepasang pembawa acara naik ke atas panggung untuk membuka. Setelah puas yapping, sepasang itu langsung memanggil peserta lomba.
Nomor urut satu naik ke atas panggung pada pukul sembilan. Hingga pukul sebelas lima puluh, nomor urut lima puluh tiga, peserta terakhir, baru turun.
Saya pun membuka rundown acara dengan menutul tautan Spreadsheet di kolom pesan berbintang. Di sana, diperkirakanlah peserta terakhir baru turun pada pukul dua siang. Maka, sebagai gantinya, sembari menemani para juri melakukan penilaian, saya mestilah mengajak mereka bercakap-cakap.
Kami berkumpul di tenda pusat informasi. Udara begitu lengket dan pengap siang itu. Rasanya mungkin seperti tengah bersauna di gurun pasir. Saya hanya berharap para juri ini tetap nyaman. Sebagai upaya membuktikan kepedulian, saya menggeser-geser sedikit kipas angin supaya lebih menghadap mereka.
Begitu para juri itu rampung menjumlahkan nilai, saya mulai masuk. Dengan ragu-ragu, saya melempar pertanyaan sok akrab, “Rata-rata peserta suka memakai puisi Sutardji, ya?”
Pada perlombaan itu, terdapat tiga puisi pilihan. Di antaranya adalah “Tanah Air Mata”, Sutardji Calzoum Bachri; “Sajak Garuda”, Emha Ainun Nadjib; dan “Gugur”, WS Rendra.
Untung saja Mas Polanco cepat tanggap. Ia segera menjawab, “Puisinya Rendra terlalu panjang soalnya …”
Ia lantas mengakak sendiri. Sekilas pria itu mirip sekali dengan Guy Maito dari seri Naruto. Tetapi, sejatinya Mas Polanco adalah seorang penyair. Akhir-akhir ini, ia kerap menulis ulasan pertunjukan.
“Tapi, memang susah, Dan,” lanjutnya. “Membaca puisi bukan perkara membaca saja. Ada seni peran, storytelling, dan sebagainya yang dipertunjukkan.”
“Njuk yang membikin tambah susah, atau malahan memang sengaja dilupakan, adalah kehadiran tubuh. Membaca puisi itu kegiatan jasmani. Mesti ada gestur walau jangan berlebihan.”
Seakan teringat satu hal, Mas Polanco lantas mengambil ponsel dari saku kemejanya. Tak lama ia mengantongi ponsel lagi, lalu mulai menyalakan rokok. Di sampingnya, Kang Rabu menyusul setelah meminjam korek darinya.
“Ya, begitulah kalau kita tak sadar sedang ada di mana,” ujar Kang Rabu sambil menyebul asap santai sekali. Wajah menyenangkan itu kontras belaka dengan apa yang diucapkannya. Entahlah. Mungkin penjualan buku puisinya, Mencintai Toko Buku, cukup menggembirakan.
“Sebelum membacakan puisi, ada baiknya membaca ruang terlebih dahulu. Ada apa saja di sekitar, bagaimana tata letaknya, apa yang bisa dimanfaatkan. Seperti tangga itu,” kata Kang Rabu sambil menoleh ke arah panggung. Di depannya, dekat sekali dengan sofa para juri, terdapat undakan tangga yang lebar.
“Dari sekian banyak peserta … berapa tadi?”
“Lima tiga,” sahut saya.
“Ya, dari lima tiga peserta, adakah yang merespons tangga itu?”
Tak mau kehilangan momen, saya memancing, “Tetapi apakah sebenarnya yang paling penting itu, Kang?”
“Untukku adalah mata. Lihat kertas nilaiku. Yang nilainya tinggi itu peserta yang matanya terisi. Bukannya kosong. Soalnya hanya dari sanalah aku bisa melihat penghayatan mereka.”
“Kalau saya,” akhirnya Mbak Nora ikut nimbrung. “Kalau saya, detik-detik pertama itulah yang menentukan.”
Mbak Nora menerangkan pelan-pelan. Jujur saja, dari pembawaannya, saya merasa menjadi salah satu siswanya di SD Muhammadiyah Sapen. “Dari mulai naik ke panggung. Saya perhatikan peserta itu lari atau tidak. Sebab terbukti. Biasanya, yang berlari itu akan buru-buru ketika membaca puisi. Tetapi yang tak kalah penting adalah menyebutkan nama pengarang. Jangan sampai tidak disebut, apalagi keliru!”
Seakan melihat celah, Mas Polanco masuk, “Misalnya, Sutardji Calzoum Bachri jadi Sutardji Surya Achri! Tapi, kenapa peserta itu rata-rata sama cara membacanya, ya?”
Saya jelas tidak tahu. Kang Rabu dan Mbak Nora juga diam saja.
“Apa karena mengikuti yang populer itu, ya?”
***
Malam itu Irsyad menelepon. Katanya, ia ada di dalam bazar buku di DPAD DIY. Saya suruh saja ia mampir ke tenda pusat informasi. Sambil menanti-nanti kedatangannya, saya putar lagi video reels kirimannya kemarin.
Ketika Irsyad tiba, dipamerinya saya buku esai, Puisi dan Bulu Kuduk. Tanpa diminta, dikutipkannya satu perkataan Acep Zamzam Noor: “Penyair bukan tukang sate, yang baru membuat kalau ada pesanan.”
“Lalu?”
“Lalu, kalau dilanjutkan akan begini. Kalau penyair bukan tukang sate, maka puisi bukan sate, dan membaca puisi,” Irsyad menyambar kotak rokok yang menyembul dari saku kemeja saya, “tak semudah menggigit sate. Asem, sudah habis!”***