Peristiwa
Belajar Literasi Finansial Bersama Para Srikandi
September 6, 2025
Kini ia muak seperti Holden Caulfield, tokoh utama novel The Catcher in the Rye. Bukan karena kemunafikan orang-orang dewasa, melainkan situasi ekonomi dan literasi di negaranya, yang sebenarnya juga akibat kebijakan orang-orang dewasa. Orang dewasalah yang menampuk kekuasaan. Pokoknya memprihatinkan!
Sore itu, di Grhatama Pustaka (Jumat, 5 September 2025), ia mesti meliput perihal ekonomi dan literasi dalam rangkaian Jogja Book Fair 2025. Gelaran ini terselenggara sebagai kerja sama antara IKAPI DIY dan DPAD DIY.
Ia mencatat suasana sekitar di buku kecil, semacam kebiasaan tradisionalnya sebelum menyalakan alat rekam. Ia rekam semua tentang pasar, jualan, dan bagaimana literasi menjadi akrab dengan uang.
Masanya telah tiba: ia akan lebih sering melihat tajuk ekonomi dan literasi dalam satu panel, di festival literasi mana pun!
Namun, hatinya yang marah juga gemetar saat mengingat sosok ibu, sebagaimana J.D. Salinger yang mempersembahkan novel pertamanya untuk sang ibunda. Dan sekarang, ia duduk di antara perempuan-perempuan hebat dari IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Bantul.
Rompi biru yang dikenakan ibu-ibu itu menyiratkan ketenangan dan rasa percaya diri, mengingatkannya pada tokoh-tokoh karangan Nh. Dini. Misalnya, tokoh Iswanti dalam cerpen Dua Dunia yang selalu percaya pesan mendiang ibunya untuk menjadi istri yang tegar. Ibu-ibu mandiri yang tegar dan siap berjuang.
***
Persoalan literasi dan ekonomi dipaparkan oleh dua srikandi: Ibu Erwin Yuniati, S.H. dari IWAPI dan Ibu Herlina Puspita Dewi dari Stiletto Book.
“Kalau IKAPI kebanyakan cowok semua, Bu, kalau di IWAPI wanita semua,” seloroh Bintang, selaku moderator talk show.
Karena Yogya agak gerah, ia membuka tudung jaketnya, menirukan Caulfield yang selalu memutar lidah topi berburu merahnya ke arah tengkuk leher.
Ketika mendengar kata pengusaha, otaknya memunculkan kata maskulin: laki-laki, jas dinas, dan rapat di gedung pencakar langit. Bayangan yang terlalu urban dan modern. Gambarannya kini mulai bergeser: siapa pun bisa jadi pengusaha, entah perempuan entah laki-laki.
“Syaratnya dua: satu, perempuan; dan dua, punya usaha,” ujar Ibu Erwin, menegaskan betapa gampangnya syarat untuk menjadi bagian dari IWAPI.
Srikandi-srikandi IWAPI tidak hanya merekrut anggota yang sudah punya usaha besar, melainkan juga mengadakan pelatihan bagi para anggota yang tengah merintis. Literasi bukan sekadar jargon. Dalam pelatihannya, para perempuan pun diajari cara bercerita.
“Mulai pendampingan pembuatan produk hingga memasarkan,” ujar Bu Erwin. “Kan percuma kalau kita hanya berhenti dalam tahap pembuatan produk. Bahkan sekarang IWAPI juga memiliki target untuk melatih seribu perempuan difabel.”
Dengan storytelling, nilai produk bisa didongkrak. Hal itu dibuktikan Bu Erwin ketika ia memasarkan batik: “Misal, usaha batik A yang tidak dibungkus cerita, dengan usaha batik B yang punya cerita, jelas harganya berbeda.”
Ia memahami kalimat itu sebagai kenyataan bahwa kata-kata memang memiliki daya pikat yang melintasi batas.
Beralih ke Bu Herlina, kesadaran akan literasi sejak lajang membuatnya mendirikan penerbit khusus untuk penulis perempuan. Bahkan nama Stiletto telah merambah ke usaha handmade untuk perabotan rumah tangga.
“Mungkin nanti saya akan bergabung dengan IWAPI, biar bisa pakai rompi-rompi biru juga,” kata Ibu Herlina dengan nada bercanda.
“Berarti nanti yang Sleman, ya, Bu,” respons salah seorang peserta.
IWAPI di Yogyakarta memang memiliki lima cabang di kabupaten/kota dan setiap cabangnya punya ciri khas pelatihan tersendiri.
Ia tertegun merasakan semangat para ibu. Ia mencatat lagi untuk mengurai benang merah antara ekonomi dengan literasi. Kemampuan literasi bukan hanya keterampilan membaca, tetapi juga daya memahami, memaknai, hingga mencipta. Tentu, praktiknya adalah literasi yang meluas sekalipun berganti medium.
Namun, pergeseran cara membaca hari ini menjadi keresahan para peserta. Seorang nenek bercerita bahwa cucunya yang mulanya gila gadget ternyata kembali menyukai majalah anak-anak seperti Bobo. Si nenek awalnya iseng-iseng membawa majalah dari rumah makan. Cucunya bilang: “Nenek, kok ada seperti ini, ya?”
“Asal dibiasakan, cara yang dianggap kuno itu masihlah ampuh. Di Stiletto, saya membuat rak di lantai. Anak-anak kan secara naluri akan mengambil apa yang mudah dijangkau,” papar Herlina.
Hal itu mengingatkannya pada bagian Caulfield ketika bertemu dengan seorang wali murid di kereta. Betapa naifnya orang tua yang tidak mengawasi perkembangan anak-anaknya. Sebab, tidak cukuplah seorang anak diberi ponsel canggih atau diserahkan ke sekolah bagus. Justru pendidikan pertama adalah mendekatkan mereka dengan bacaan sejak dari rumah.
“Bagi saya, buku itu adalah guru yang tidak pernah marah,” tutup Bu Herlina.
Akses bacaan juga menjadi pertanyaan seorang mahasiswa asal Pariaman yang baru merantau dua tahun di Yogya. Jurang harga buku di daerah dengan di pusat penerbitan jelas menjadi kendala. Yogya yang indeks gemar membacanya tertinggi di Indonesia segaris dengan tingkat SDA paling bagus. Lagi-lagi soal akses.
“Jangankan di daerah, Mas, bahkan antarkabupaten di Yogya pun harganya bisa sangat jauh. Buku dikenakan pajak sesuai tempatnya. Harga yang di bazar dengan yang di toko berbeda. Itu semua karena pajak,” jawab Bu Erwin.
Bintang menambahkan bahwa persoalan ini adalah pekerjaan bersama, terutama pemerintah. “Kalau swasta saja yang bergerak, tentu sulit,” ucapnya.
Kemuakannya yang tadi mereda tiba-tiba tersulut kembali. “Memang, soal buku ini nggak pernah beres,” gumamnya.
Ibu Herlina menambahkan bahwa, di negara-negara lain, misalnya di Denmark, pajak buku sudah dihapuskan.
Jangan jauh-jauh ke Denmark. Yang dekat saja seperti di Singapura dan Malaysia, pemerintah mereka begitu peduli dengan buku. Bagaimana mungkin literasi akan berjalan jika akses saja masih sulit? Ironi demi ironi. Kenyataan di lapangan juga terkadang absurd. Festival literasi di mana-mana, tetapi tak lebih dari festival jualan. Harga masih terlampau tinggi untuk sebagian besar orang.
Untungnya, ia sekarang di Yogya. Buku murah dan mudah ia dapat, meskipun esok harinya mesti menahan diri karena tidak bisa makan enak. Ia tahu bahwa ekonominya belum cukup untuk menyejahterakan perut dan otak dalam waktu bersamaan. Dan, ia sendiri kini menyadari tak mau berlama-lama munafik dan tidak berbuat adil terhadap keduanya. Ia harus memilih sebagai orang yang beranjak dewasa!***