Lewati ke konten

Peristiwa

Susur Galur VI: Dunia Internasional dan Seruan Senyap Sastra Indonesia

August 9, 2025

Kredit: FSY 2025.

Setelah bangun terlalu siang dari tidurnya yang terlalu larut, dan memaksa diri melawan tarikan kuat dari tempat tidur, lalu memacu motornya di tengah terik dengan kecepatan agak lumayan ke selatan sepanjang nyaris delapan kilometer, ia mendapati dirinya tiba di aula Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan.

Ruangan aula itu, yang didominasi warna putih dan baginya terlalu dingin, tampak tenang, tetapi hangat, dengan kehadiran Ronny Agustinus dan Elena Ricchitelli sebagai narasumber serta Muhammad Qadhafi sebagai moderator. 

Ia duduk di barisan kursi paling depan, agak menjorok ke sebelah kanan. Kalau ia sedikit menengok ke samping-belakang, akan tampak ramai orang-orang yang, sama sepertinya, menunggu tiga orang di depan memulai pembicaraan. Diskusi sore itu, Senin (4/8/2025), bertajuk “Susur Galur VI: Komunitas Meluas”, digelar dalam rangka Festival Sastra Yogyakarta 2025.

“Apa yang terjadi dengan sastra Indonesia di luar sana?” Itulah pertanyaan yang muncul di benaknya bahkan saat ia sedang terburu-buru berangkat.

Dalam konteks “Komunitas Meluas”, asumsi yang terngiang-ngiang di kepalanya ialah semacam usaha untuk memperkenalkan sastra Indonesia keluar. Ke luar negeri. Meski cenderung acuh tak acuh dalam perkara itu, ia ingin mendengar lebih lanjut. Jadi, ia bertanya kembali: jika ia dengan mudah menemukan nama-nama seperti Gregor Samsa, Santiago, kolonel Aureliano Buendía, Winston Smith atau Toru Watanabe, yang belakangan baru saja selesai ia baca dan  langsung membikinnya kagum, apakah di luar sana orang-orang mengenal (dan membaca) pula nama Minke, Sukab, Dewi Ayu, Kadiroen atau Tokoh Kita?

Sementara pertanyaan itu masih membuncah di kepala, ia mengernyitkan dahi sambil menyimak pembacaan puisi dalam bahasa asing sebagai pembuka, yang membuatnya merasa seperti menjadi serangga besar di meja makan.

Dengan itu, serta rasa penasarannya yang memang besar, ia menyimak sampai habis diskusi itu.

Selepas menyimak paparan Qadhafi, ia mengerti bahwa ada satu permasalahan yang sebetulnya menjadi pertanyaan utama dalam diskusi, yakni tidak banyaknya informasi tentang kerja sama internasional yang dapat diketahui, apalagi diakses, oleh komunitas sastra, terutama di daerah, dan akses tersebut pun sering kali hanya tersangkut di “pusat”.

Lantas, sambil memperhatikan salindia yang ditampilkan di layar, ia mendengar pemaparan Ronny dari perspektif penerjemah dan pemimpin redaksi penerbit buku sastra, yaitu Marjin Kiri. Ia dapati pertanyaan tegas dari Ronny di tengah-tengah diskusi bahwa kata “daerah” atau “pusat” tak lagi relevan. Karena, dengan kehadiran internet, akses kepada komunitas luar (negeri) semakin terbuka lebar.

Ada lima poin utama yang dikemukakan Ronny tentang usaha meluaskan jaringan komunitas sastra ke luar negeri.

Pertama, kerja sama formal dengan pelaku perbukuan internasional di luar negeri, baik penulis, penerbit, agen, lembaga sastra maupun lainnya. Marjin Kiri aktif dalam melakukan kerja sama penerjemahan, baik penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia maupun sebaliknya, dengan penerbit dari luar negeri. Hampir setiap negara memiliki lembaga sastra yang sering kali memberi subsidi penerjemahan, dana penerjemahan, bahkan beberapa di antaranya bersedia memberangkatkan penulis atau penerjemahnya ke negara lain.

“Hal-hal semacam itu membantu meluaskan jaringan kita, dan itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” ujar Ronny.

Kedua, hubungan informal dengan pelaku perbukuan internasional. Ada grup Facebook yang berisi para pelaku penerbitan dari seluruh dunia dengan anggota ribuan. Anehnya, di grup itu, tidak ada yang boleh membicarakan bisnis. Ada pula grup whatsapp yang terbentuk dengan isi pembicaraan seputar kabar sehari-hari dan saling bertukar lelucon serta bermacam bentuk lain yang lebih ke arah pertemanan. 

Ketiga, mengikuti fellowship. Namun, masih yang ia dengar dari paparan Ronny, gejolak geopolitik turut memengaruhi program-program fellowship. Banyak skema yang berubah, apalagi ketika situasi geopolitik sedang memanas seperti hari ini.

Keempat, bergabung dengan asosiasi atau serikat baik tingkat nasional maupun internasional. Bisa mengikuti serikat yang lebih umum, seperti IKAPI di tingkat nasional, atau Independent Book Publishers Association di tingkat internasional. Bisa juga mengikuti serikat yang like-minded atau similar-type seperti, dalam kasus Marjin Kiri, International Alliance of Independent Publishers yang, walaupun mewadahi banyak sekali penerbit, memiliki kesamaan, yakni penerbit dengan skala kecil. Ada juga International Union of Left Publishers yang diikat dengan kesamaan menerbitkan buku-buku dengan pemikiran kiri.

Kelima, memanfaatkan jaringan yang ada dan sudah mapan. Misalnya, ada Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) atau kota Jakarta yang sejak beberapa tahun lalu masuk dalam jaringan UNESCO City of Literature. Soal Jakarta sebagai City of Literature bisa dipandang sebagai yang “pusat” karena berada di ibu kota.

“Tapi,” kata Ronny, “perlu ditekankan bahwa sebenarnya setiap kota dapat mengajukan ini. Itu tergantung dari pemerintah daerah. Dulu Jakarta mendapat status ini juga karena para pegiat literasi memperjuangkan itu ke pemerintah daerah Jakarta agar sama-sama mengajukan ke UNESCO dengan sekian syarat yang mesti dipenuhi, dan sejumlah komitmen yang mesti dijaga.”

Bertolak dari Ronny, ia maju terus selama tiga puluh detik melewati satu pernyataan singkat moderator yang mempertegas pernyataan Ronny: “Ternyata persoalan perluasan sastra ke dunia global tidak semata-mata persoalan pusat dan pinggiran atau daerah dan ibu kota, tapi bagaimana kita bisa mengakses informasi yang lebih terbuka melalui internet.”

Elena melanjutkan perbincangan dengan turut membawa lembar paparannya di layar yang sama. Lantas, memulai dari “super nol”, menurut istilah Elena sendiri, Elena memperkenalkan Antonio Pigafetta sebagai orang pertama yang memperkenalkan Indonesia (tepatnya Nusantara) ke kawasan Eropa, terutama Italia, dan juga menulis kamus Melayu-Italia pertama di sekitar abad ke-16.

Nama La Strada Senza Fine kemudian ia dengar. Itu merupakan versi terjemahan bahasa Italia dari novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan menjadi novel pertama yang diterjemahkan langsung dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Italia.

Elena lalu menyebut nama Pramoedya Ananta Toer yang lantas disayangkan karena kedua seri novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru terbit dengan bahasa Italia, tapi diterjemahkan dari bahasa Inggris. Untungnya, Il Fugitivo, atau Perburuan, diterjemahkan ke bahasa Italia dari bahasa pertamanya.

Elena berturut-turut menyebut Saman karya Ayu Utami, Cala Ibi karya Nukila Amal, Tarian Bumi karya Oka Rusmini, Pulang karya Leila S Chudori, dan Bukan Perawan Maria karya Febi Indriani sebagai sastra modern Indonesia yang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya ke bahasa Italia. Ada pula Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Cantik itu Luka serta Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan yang diterjemahkan dari bahasa kedua.

Karya sastra berupa puisi yang telah diterjemahkan dan menjadi satu buku utuh hanya karya Sitor Situmorang. Itu pun karena muncul latar Italia dalam beberapa puisinya, dan sudah sulit ditemukan lagi karena hanya diterbitkan sekali.

Elena mengakui bahwa hanya yang ada di daftar itulah karya sastra (novel) Indonesia yang telah diterjemahkan ke bahasa Italia. Lalu, Elena sedikit menyinggung beberapa karya sastra Italia yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia yang, kebanyakan, justru diterjemahkan dari bahasa kedua, terutama Inggris, dan langka sekali yang diterjemahkan dari bahasa Italia langsung.

Dan ia, yang masih nyaman duduk di bagian depan, menggeleng-gelengkan seakan ia agen sastra yang sempat ditugaskan ke Italia. Kemudian, dengan tatapannya yang masih lekat pada salindia yang di layar, ia menemukan puisi Aku karya Chairil Anwar yang diterjemahkan Elena ke dalam bahasa Italia. Gema suara asing yang sempat membuatnya merasa seperti menjadi serangga di awal yang ternyata puisi yang sudah berulang kali ia baca!

/E allora ancor meno mi importerà://Voglio vivere mille anni ancora!// Itu bunyi bait terakhir puisi itu dalam bahasa Italia.

Ia, karena diskusi hampir berakhir, lantas mengingat-ingat lagi sebuah esai panjang yang berkaitan dengan persoalan ini. Esai itu ditulis oleh paus sastra Indonesia dan suatu kali pernah ia baca. Ia mendapati kalimat yang tersimpan tak rapi di kepala, dan ia temukan kemudian di buku catatannya—yang kebetulan ia bawa—yang bunyinya begini: “Ada orang bertanya mengapa sastrawan kita belum ada yang mendapat hadiah internasional. Hadiah Nobel, misalnya. Kita haruslah tahu diri. Syarat untuk hadiah itu sangat tinggi. Dan kita masih kekurangan makanan yang bergizi untuk mendapatkannya.”

Sebelum diskusi, ia hampir tak menaruh peduli soal Indonesia sebagai warga sastra dunia. Selama diskusi, ada uluran tangan yang menariknya untuk mencoba mengerti. Di akhir diskusi, ia meyakini bahwa sastra Indonesia masih kekurangan gizi. Sesudah diskusi, ia percaya bahwa sastra Indonesia masihlah serupa ngengat di siang hari, yang masih sesekali berupaya berteriak, meski yang terdengar hanyalah bisik-bisik senyap.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.