Lewati ke konten

Peristiwa

Susur Galur V: Tantangan itu Bernama Regenerasi

August 8, 2025

Susur Galur V (Senin, 4/8/2025). Kredit: FSY 2025.

Regenerasi merupakan persoalan bagi setiap organisasi atau komunitas. Begitu pula dengan komunitas sastra di Yogyakarta.

Dipantik oleh Latief S. Nugraha, diskusi Susur Galur V: Regenerasi (Senin, 4/8/2025) menghadirkan empat pembicara, yaitu Yetti Martanti (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta), Evi Idawati (Rumah Sastra Evi Idawati), Ratun Untoro (BBY), dan Muhammad Qhadafi (Suku Sastra). Dipilih dua term yang menjadi pokok bahasan, “pewarisan” dan “pergantian”.

Hal itu membuat tokoh kita, Lin, menukil pelajaran yang mungkin akan menjadi renungan semisal ia mendirikan sebuah komunitas sastra.

Kedatangan Lin di sana memang untuk mencatat. Ia lihat kursi-kursi dipenuhi oleh mahasiswa seusia dengannya. Tokoh kita mengira-ngira tempat duduk, lalu diputuskannya memilih baris kedua.

“Oh ya, hampir lupa,” sadar ingatannya tak terlalu bagus, Lin menyalakan alat rekam.

Dalam catatan Lin, komunitas sastra tidak hanya bergiat dengan menulis dan mengapresiasi karya sastra, tetapi juga merawat. Mengasuh komunitas berarti melakukan peremajaan terus-menerus, tidak hanya anggota tetapi, juga gagasan.

“Hmmm, begitu ya,” gumam Lin setelah menyimak pemaparan Ibu Yetti, sebelum si pembicara meninggalkan panggung karena dipanggil urusan kebudayaan lain.

Kini menyisa empat orang yang melaku tayang bincang di panggung. Lin, tokoh kita, kian memfokuskan pendengarannya. Pencatatannya disusun dari setiap kalimat oleh pewicara.

Regenerasi sebagai benang merah sastra membawa Lin pada pemahaman bahwa identitas suatu komunitas menentukan anggota-anggotanya. Lin mencatat kata kunci: visi. Komunitas sastra mestilah memiliki visi.

Era Pujangga Baru, misalnya, bukan sekadar nama majalah, melainkan juga perkumpulan yang merepresentasikan visi suatu generasi. Dalam rentang itu, Pujangga Baru bisa dilihat sebagai periode di mana ekosistem sastra benar-benar mendekati hidup.

Ada relasi-relasi yang tak biasa ketika pada era Pujangga Baru itu, antara karya dan kritik sastra jumlahnya sama banyak. Hal itu tak bisa lepas dari strategi publikasi untuk mengenalkan sastra. Bahasa yang digunakan memiliki dua tingkat untuk dua pembaca, yaitu bahasa untuk para sastrawan dan bahasa untuk khalayak umum.

Karya sastra dulunya memang sebatas dibaca oleh sesama sastrawan, tetapi tidak menutup akses kepada masyarakat umum. Kehadiran koran bisa dikatakan sebagai awal mula di mana sastra semakin populer, tetapi tidak kehilangan esensi dan estetikanya. Inilah yang menjadi pertanyaan bagi komunitas hari ini.

Tantangan suatu komunitas tidak hanya regenerasi, tetapi juga estetika dan identitas. Katakanlah pergantian anggota berjalan baik, tetapi apa yang diwarisi adalah visi saklek dari generasi pertama sehingga tidak ada perkembangan gagasan dan spirit bersastra.

Hal tersebut juga bisa menjelma menjadi kebosanan yang berujung pada kebekuan ide di dalam komunitas. Dalam kasus terburuknya, identitas komunitas bisa saja mengancam identitas si penulis. Perbedaan latar belakang dan kapasitas anggota yang dibentuk ulang melalui habitus komunitas akan buram dan tergantikan oleh homogenitas karakter.

Penulis bisa saja dikenali karena komunitasnya sebab memiliki kemiripan gaya tulis dengan anggota yang lain. Bagi pembaca kelas kakap atau pengamat karya sastra, sebuah tulisan yang terindikasi dengan suatu komunitas bisa tertebak tanpa harus melihat siapa nama pengarangnya.

Hal ini karena kesamaan ciri yang telah menubuh dan menjadi patogen karena berpotensi membunuh keunikan masing-masing anggota. Artinya, regenerasi bisa dikatakan berhasil ketika komunitas itu berkembang juga secara intelektual, bukan hanya menjiplak apa yang sudah ada dan mereplikasi tanpa modifikasi.

Untuk menyiasati itu, komunitas sastra perlu melintas dan bergaul dengan bidang-bidang lain guna menciptakan ekspresi-ekspresi pengkaryaan yang kaya dan tidak monoton. Pasalnya, tulisan yang dikandung rahim komunitas sudah memiliki pola tersendiri.

Urat-urat di dahi Lin bermunculan ketika ia lanjut mencatat soal literasi dan negara. Ia agak miris mendapati urutan negaranya jika sudah menyangkut literasi. Sangat menyedihkan. Lin sependapat dengan salah satu pembicara bahwa tingkat penyerapan (baca: pemahaman) karya sastra juga dipengaruhi oleh kemampuan literasi warganya.

Belum selesai kebingungannya, Lin teringat dengan fenomena pada masa pandemi Covid-19. Waktu itu negaranya meminta ISBN hingga melebihi kapasitas yang boleh diberikan setiap tahun. Tentu ini sebuah paradoks. Mestinya hal itu menyiratkan suatu capaian yang sebanding dengan tingkat membaca warga negaranya. Sastra, dalam catatan Lin, tidak semata diukur dari kuantitas produktivitas untuk menghasilkan karya, melainkan juga kualitas karya tersebut.

Tugas komunitas sebagai akar pohon yang paling awal bagi para penulis. Selain mengemban nilai kebersamaan atau srawung, sekiranya pun bisa memicu kemungkinan (ekspresi baru) dan perluasan publikasi yang berimbang. Dalam lingkungan komunitas sastra yang seragam, semangat eksplorasi dalam komunitas sastra tidaklah dikesampingkan.

Namun, tantangan tidak ditujukan khusus hanya kepada komunitas, tetapi juga masyarakat. Membumikan sastra dua kali lipat lebih sukar daripada menjaga ritme regenerasi. Sastra di publik dikenal sebagai bacaan yang asing di tengah genre bacaan yang semakin bermacam. Bahkan kita tahu di masyarakat kita hari ini, masih ada sentimen dan kegamangan: “Apakah lebih baik membaca yang sastra atau bukan sastra?”

Jangankan membaca sastra, kebiasaaan membaca pun masih jadi pertanyaan di tengah potensi hambatan lain, misalnya kehadiran Akal Imitasi (AI). Akal Imitasi atau kecerdasan buatan bisa dikatakan belati bermata dua. Bagi komunitas sastra yang sudah seragam, dan penulis secara umumnya–AI amat mungkin akan menghancurkan kreativitas penulis, tetapi juga berpotensi memperkaya ekspresi suatu tulisan.

Selain AI, ada juga tantangan dalam sastra agar bertautan dengan kearifan lokal dan kebutuhan masyarakat sebagaimana sastra dan bahasa yang hidup adalah bahasa yang benar-benar mendorong masyarakatnya menjadi insan yang berbudi halus. Ada pula tantangan antargenerasi, yakni mengenalkan sastra dan membaca kepada anak-anak yang mana pendekatannya jelas berbeda dengan orang dewasa.

Lin mencatat apa yang didengar tanpa membubuhkan kutipan verbatim di tulisannya. Ia ingin mencoba gaya penceritaan yang lain. Dari catatannya, ia menyimpulkan bahwa tantangan sastra hari ini bukan hanya persoalan regenerasi pada komunitas.

Bagi Lin, itu sekadar puncak es. Pertanyaannya, apakah sastra hari ini benar-benar telah dihidupi oleh masyarakat jikalau yang mendasar seperti kebiasaan membaca masih belum dicapai oleh mereka?

Lin menutup buku jurnalnya, mengangkat pantatnya dari kursi, lalu keluar dengan kepala penuh. Ia sandarkan lipatan tangannya di pagar tepi embung, menghela napas panjang, dan bergumam: “Huft… sastra.”

Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Bentang Pustaka, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.