Lewati ke konten

Peristiwa

Susur Galur III: Di Kampus, Di Kampus, Daerah Sastra yang Selalu Ada

August 7, 2025

Kredit: FSY 2025.

Ketika menyimak tiga orang penggiat komunitas sastra (di) kampus pada rangkaian Festival Sastra Yogyakarta 2025 (Minggu, 3/8/2025) di Grha Budaya itu, ia teringat lagi pada suatu sore yang jauh ketika seorang mahasiswa sastra Indonesia UNY mendorong punggungnya dan menunjukkan jalan kepadanya untuk menemukan puisi.

Masih ia ingat betul baris puisi berbahasa Inggris karya Robert Frost yang hingga rambutnya memutih pun masih sering membuatnya merinding, yang dideklamasikannya dengan suara gemetar pada saat usianya masih hijau itu: “the land was ours before we were the land’s”.

Kegiatan sastra itu, tiga tahun setelah Orde Baru tumbang, sangat sederhana. Panggung hanya dibuat dari kotak-kotak kayu besar dan cukup tebal yang ditata di bawah naungan sebatang kamboja yang jarang-jarang daunnya–ia selalu membayangkan kamboja sebagai pohon yang dicengkeram kemarau abadi.

Dari kegiatan bersahaja itu, ia memperoleh sahabat-sahabat baru yang sama-sama berhubungan dengan sastra, entah sebagai kewajiban lantaran kuliah di jurusan sastra entah sungguh-sungguh percaya sastra bisa menyelesaikan semua persoalan–semangat dan keluguan yang wajar pada anak muda berusia awal dua puluhan.

***

Jumlah hadirin dalam diskusi itu seperti mencerminkan kondisi di kampus ketika diskusi sastra digelar. Kalau dihitung dengan jari tangan empat orang pun masih ada sisa. Ia tidak berburuk sangka: barangkali sebagian besar pembaca buku sastra saat ini memang lebih suka berdialog langsung dengan teks ketimbang berdialog dengan pembaca lain.

Itu membuatnya teringat pada A. Teeuw yang menyatakan–kalau ingatannya tidak keliru–bahwa sastra modern di seluruh dunia pada dasarnya adalah sastra berbasis teks, bukan lisan atau pertunjukan.

Namun, dipandu moderator M. Khuluqul Karim dari Teater ESKA UIN, ketiga pembicara dalam diskusi yang diberi nama Susur Galur antusias membicarakan kegiatan sastra di kampus. Mereka adalah Kyla ‘Aisya Mavalena dari KMSI UGM, M. Rizqy Fathurrohman dari Susastra UNY, dan Valentino S. dari Bengkel Sastra Universitas Sanata Dharma.

Melihat antusiasme mereka, ia merasa melihat lagi dirinya yang dulu: senang kepada sastra tanpa benar-benar tahu sebabnya, bersedia repot-repot mengurus kegiatan sastra dengan imbalan rasa senang dan lega belaka, dan percaya bahwa sastra bisa menyelamatkan dunia.

Kyla mengakui bahwa KMSI UGM, singkatan dari Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada, tempat ia bertugas sebagai ketua, bisa dibilang sebagai komunitas, tetapi yang sangat struktural karena merupakan himpunan mahasiswa jurusan atau HMJ.

Kegiatan sastra di FIB UGM sendiri cukup aktif karena ada Perpustra yang ada di bawah FIB. Di tingkat KMSI sendiri, ada wadah diskusi bernama Pesbuk, atau Pesta Buku, yang diikuti bukan hanya oleh mahasiswa sastra, tapi juga dari saintek, ilmu komputer, dan ilmu sosial.

Fathur dari Susastra UNY memulai dengan ironi. Ada komunitas sastra yang mewadahi minat sastra ada di sebuah kampus sastra. Dengan begitu, ada asumsi bahwa tidak semua mahasiswa yang masuk jurusan sastra Indonesia, di UNY khususnya, berminat dengan kesusastraan.

Akhirnya muncullah komunitas sastra untuk mewadahi teman-teman yang punya minat di bidang sastra. Berbeda dari KMSI UGM yang struktural dan mengurusi agenda kampus yang akademis, Susastra bergerak secara informal walaupun masih bernaung di bawah himpunan mahasiswa jurusan bernama KMSI UNY.

Para penggiat Susastra merasa, minat terhadap sastra tidak terwadahi seutuhnya di ruang-ruang kelas. Mereka punya wadah bernama waton diskusi, yang sesuai namanya berarti ngasal. Wadah ini berangkat dari skeptisisme. Mereka membedah dan membicarakan karya-karya dan para penulis mapan, misalnya Eka Kurniawan atau puisi Sapardi. Kegiatan itu diusahakan sebagai sesuatu yang hangat, cair, seperti obrolan di warung kopi.

Valentino menceritakan, dengan menukil “tradisi lisan” di komunitasnya, bahwa Bengkel Sastra berawal dari kumpul-kumpul mahasiswa di luar kelas yang sebenarnya membolos. Mereka membuat bengkel sastra karena terinspirasi oleh Bengkel Sastra yang didirikan Rendra.

Bengkel Sastra ikut pingsan selama pandemi, dan baru aktif lagi pada 2023. Strukturnya cair. Kegiatannya lebih banyak berupa panggung ekspresi untuk membacakan puisi dan karya lain serta muspus atau musikalisasi puisi.

***

Sesuai tren, komunitas-komunitas itu punya akun media sosial, terutama IG. Bengkel Sastra di @bengkelsastra_usd, Susastra di @susastrakmsi, dan KMSI UGM di @kmsiugm.

Khuluqul mengajukan pertanyaan yang cukup merepotkan ketiga pembicara. Bagaimana aktivisme sastra berdialog atau mungkin bertentangan dalam pembentukan wacana sastra di luar kelas?

Valentino menjelaskan lebih dulu bahwa secara struktural, Bengkel Sastra dinaungi langsung oleh prodi atau program studi, setara dengan HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) dan Bengkel Jurnalistik. Masalahnya biasanya dengan dosen. Mereka sering terbentur dengan keinginan dosen ketika akan mengadakan acara. Tetapi, Bengkel Sastra sering juga membuat acara di luar program anggaran yang telah dibuat.

Sejauh terkait hubungan dengan birokrasi kampus, Fathur menganggap kondisinya relatif. Susastra juga mendapatkan dana dari kampus walaupun dirasa kurang. Yang membedakan dengan kampus adalah pendekatannya. Kampus lebih formal, sementara Susastra lebih cair dan berdasarkan kebutuhan. Mereka mencari cara untuk membicarakan sastra di luar kelas dengan suasana yang lebih cair tanpa sekat-sekat kelas.

Kondisi lebih kurang sama dengan di UGM. Kyla memaparkan bahwa KMSI UGM secara struktural berada di bawah program studi sehingga mendapatkan pendanaan juga dari kampus. Karena itu, ketika menggelar program, tanggal pelaksanaannya harus mengikuti kalender dari fakultas. Hanya, KMSI UGM juga menyediakan advokasi, misalnya dalam pengajuan keringanan UKT.

Ketiga penggiat komunitas sastra (di) kampus itu menghadapi masalah yang sama, yaitu minat dan kontribusi mahasiswa dalam kegiatan sastra. Sudah berkali-kali mereka melakukan inovasi yang bukan hanya berupa diskusi khusus sastra, tetapi juga multidisipliner, tetapi peserta tidak bisa dibilang banyak.

Khuluqul menggeser tema yang sensitif ke yang lebih sensitif lagi dengan menanyakan apakah, dalam pengalaman berkomunitas, ada momen ketika sastra digunakan sebagai sikap perlawanan terhadap isu-isu sosial, politik, atau institusional lainnya? Bagaimana komunitas mengelola posisi kritisnya agar tidak teralienasi dari institusi kampus?

Fathur mengakui belum ada perlawanan politis karena yang ada adalah sikap-sikap tidak peduli. Misalnya, beberapa kali menerbitkan zine, yaitu Mimesis, dengan menyelipkan kritik terhadap kampus. Tetapi, belum ada respons dari pihak kampus.

KMSI UGM memang dibatasi aturan dan kewajiban dari kampus, tapi secara umum tidak ada aturan yang terlalu ketat membatasi. KMSI UGM tetap menyediakan forum bernama Ruang Kecil sebagai ruang untuk berkarya. Ada juga Musafir, berisi perbincangan tentang musik, sastra, dan film dan terbuka untuk umum. Tidak ada batasan untuk substansi, termasuk kritik kepada pemerintah.

Bengkel Sastra belum banyak mengembangkan kegiatan, sangat berbeda dengan para pionir Bengkel Sastra yang aktif, misalnya Jualianno Lorca. Sejauh ini, output kegiatan masih dokumentasi foto yang diunggah di Instagram. Zine sendiri, bernama BengZine, baru mulai dikelola pada 2024.

Di tengah pembicaraan yang membikin kening berkerut, Khuluqul menyisipkan humor dengan menyoroti slogan-slogan yang khas anak muda. Instagram Bengkel Sastra dengan slogan “Tinggalkan ruang kelas yang pengap dan disakiti teori hafalan Mari kita berjumpa untuk belajar, berproses dan berkarya bersama-sama Bunda dan Nona”.

Fathur menduga slogan humoris semacam itu sebagai sebagai bentuk candaan sekaligus penanda bahwa komunitas sastra di kampus masih belajar. Fokusnya masih pada kesadaran untuk membaca dan membahas sastra karena bahkan di kampus sastra pun hal semacam itu belum dirasa sebagai sesuatu yang urgent atau penting.

***

Terhadap pertanyaan seorang hadirin tentang cara komunitas mendorong pembelajaran di luar kelas, Valentino mengakui penggiat Bengkel Sastra hanya membangun koneksi untuk keperluan belajar dan menambah pengalaman dengan bekas anggota yang dikenal secara pribadi. Koneksi antarangkatan kurang terbangun. Dengan angkatan 2019 pun angkatan yang baru tidak kenal semua. Belum ada usaha untuk melakukan regenerasi.

KMSI UGM berusaha untuk memfasilitasi saja dengan bantuan pembinanya, yaitu Mas Asef (Asef Saeful Anwar). Dosen juga membebaskan KMSI untuk membangun koneksi dengan pihak-pihak di luar kampus. Misalnya, ketika akan menggelar pementasan teater, KMSI dibebaskan untuk bekerja sama dengan ISI Yogyakarta. Juga, misalnya, dalam workshop penulisan cerpen, dosen membantu menyediakan jaringan.

Susastra mencoba membangun koneksi dengan alumni atau kakak tingkat yang lebih dulu bergelut di dunia sastra. Mereka juga “bergerilya” sehingga dekat dengan komunitas lain, misalnya dengan JBS dan Jejak Imaji. Bagi Fathur, itu merupakan sebuah privilese. Khuluqul berkomentar bahwa koneksi itu adalah upaya berjejaring yang sangat erat dengan tema FSY 2025, yaitu “Rampak”, yang lebih kurang berarti berkolaborasi.

Di KMSI UGM, dengan alumni yang menjadi dosen pun terhubung baik, setidaknya karena secara administratif berhubungan sebagai dosen dan mahasiswa. Untuk menjaga yang telah ada, siasatnya adalah dengan menyediakan konsumsi. Selain itu, pada awal kuliah, juga diajukan pertanyaan untuk menggali minat mahasiswa untuk mengadakan workshop atau diskusi dengan tema tertentu.

Dalam pernyataan pungkasnya, Valentino mengumpamakan Bengkel Sastra sebagai korek jres (korek api kayu) dalam ekosistem sastra di Yogya. Mereka bisa menyalakan api, tetapi hanya sebentar sehingga harus ada upaya untuk menjaga nyala itu lebih lama.

Sementara itu, Fathur mengibaratkan Susastra sebagai mak comblang yang memperkenalkan sastra kepada masyarakat pendukungnya, baik di dalam maupun di luar kampus.

Kyla memandang KMSI masih punya banyak pekerjaan rumah untuk membuat sastra tidak lagi menjadi pilihan terakhir untuk memasuki dunia perkuliahan atau pekerjaan.

***

Ia mengemasi peralatan rekamnya setelah Khuluqul menutup diskusi. Pendingin ruangan yang luar biasa dingin membuatnya teringat pada baris puisi Goenawan Mohamad: “dingin tak tercatat pada termometer”. Tapi, ia merasa penyair itu melebih-lebihkan saja. Memang begitu kebiasaan penyair, bukan?

Kekhawatiran ketiga penggiat komunitas (di) kampus itu tentang minat mahasiswa terhadap kegiatan sastra pun mungkin hanya melebih-lebihkan saja. Pada setiap tahun akademik baru, selalu ada satu atau dua mahasiswa yang masih bersedia menghidup-hidupinya di kampus. Mereka, ketiga pembicara itu, adalah di antaranya.***

Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Festival Sastra Yogyakarta 2025, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.