Lewati ke konten

Peristiwa

Menyapa Ibu Suri di Sore Penuh Cerita

August 5, 2025

Kredit: FSY 2025.

Senin sore, 4 Agustus 2025 itu, udara di teras Embung Giwangan masih menyisakan panas siang yang belum tuntas, tapi kesejukan justru datang dari panggung di sana. Deretan kursi dipenuhi penonton dari berbagai penjuru, sebagian membawa buku-buku lama dengan sampul tertekuk waktu, sebagian lainnya berbekal semangat dan rasa ingin tahu. Mereka datang dari Bangkok, Sleman, bahkan Gunung Ido—entah nyata atau sekadar metafora dalam semesta yang dibangun oleh penulis yang mereka tunggu-tunggu.

Di tengah gemuruh tepuk tangan dan sorakan penuh antusias, Joanna Zetira mengajak semua untuk bersuara. “Yang dari Bangkok mana suaranya?” tanyanya dengan semangat. Riuh yang didapat tidak memuaskan, dan candaan pun meluncur, “Segitu doang semangatnya warga Sleman?” Gelak tawa membaur dengan rasa hangat: ini bukan hanya acara sastra. Ini reuni semesta.

Kemudian, nama yang dinanti diserukan. “Satu, dua, tiga—IBU SURI!” dan muncullah perempuan dengan karisma yang tak lekang waktu: Dee Lestari, atau seperti ia lebih akrab disapa di panggung ini, Ibu Suri. Tak lama kemudian, nama lengkapnya diumumkan dengan gegap gempita: Dewi “Dee” Lestari hadir di hadapan para pembacanya.

Kenangan, Lagu, dan Kisah Tanpa Rencana

“Terima kasih sudah datang, selamat sore semuanya,” ucap Dee, membuka sesi dengan senyuman hangat. Meski ia mengaku sempat grogi, tak satu pun dari penonton meragukan betapa kehadirannya sangat ditunggu.

Sore itu, Dee berbagi lebih dari sekadar karya. Ia membuka kenangan masa lalu, saat ia menulis lagu pertamanya di kelas lima SD, bahkan sempat menciptakan Mars untuk sekolahnya di Bandung. “Kenapa malah bikin Mars?” tanyanya retoris, lalu tertawa. “Ya, saya juga nggak tahu.”

Di atas panggung, ia bukan hanya seorang penulis atau musisi. Ia adalah pengarsip hidup. “Saya catat berat badan saya setiap hari selama sembilan tahun terakhir,” katanya disambut decakan kagum. “Parkir bulan Januari 2017? Ada catatannya.”

Namun hidup, baginya, tak selalu terencana. Buku kumpulan cerpennya, Tanpa Rencana, justru lahir dari semangat membuka diri pada ketakterdugaan. “Saya melibatkan pembaca untuk memberi ide,” ujarnya. “Ternyata inspirasi bisa datang dari mana saja. Tidak harus mendaki gunung atau ke pantai. Bisa dari hal yang sederhana.”

Dan bagian paling absurd? Cerpen berjudul Transendensi Ampas Insani yang mengajarkan konsep ikhlas lewat cara paling tak terduga. “Kita semua melakukan hal ini setiap hari dengan ikhlas, tanpa berharap kembali.” Penonton pun tertawa sembari mengangguk, tahu persis apa yang dimaksud.

Di Persimpangan Musik dan Fiksi

Lebih dari satu dekade lalu, publik mengenalnya lewat Kepingan, Peluk, dan Malaikat Juga Tahu. Kini, ia bersiap merilis album penuh lagi setelah Rectoverso tahun 2008. “Saya ingin kembali bernyanyi, tapi bukan untuk pembuktian. Ini soal bersenang-senang,” ucapnya. “Kalau Tuhan sudah kasih talenta, masa nggak dipakai?”

Penonton bersorak ketika Dee membocorkan rencananya untuk Musical Storytelling Aromakarsa yang akan dipentaskan malam itu. “Ini kali pertama saya bawakan lagi setelah enam tahun,” katanya. “Jati dan Suma punya lagu. Bahkan adegan Jati dengan Banas Pati, ada lagunya.”

Buku Baru, Kenangan Lama

Sore itu juga jadi momen penting lainnya. Dee mengumumkan karya kolaboratifnya yang akan rilis September: kumpulan tulisan mendiang suaminya, Reza Gunawan, disertai tulisannya sendiri. “Ini adalah karya kami berdua,” katanya. Buku itu disusun bertepatan dengan seribu hari kepergian Reza. “Agar kenangan dan perenungannya tetap hidup bersama kita.”

Rapijali, dan Dunia yang Tak Bisa Dilepaskan

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta muda bertanya tentang buku yang paling memuaskan untuk ditulis. Dee menjawab dengan jujur dan penuh rasa: “IEP dan Aroma Karsa sangat menantang, tapi Rapijali adalah dunia yang paling sulit saya lepaskan.”

Ia menulis Rapijali saat berusia 17 tahun, dan cerita itu sempat mati suri selama 27 tahun. Kini, ia membocorkan kabar gembira: Rapijali akan hadir dalam versi audio-visual. “Kami akan mulai syuting awal tahun depan,” ujarnya, dan ruangan langsung bergemuruh.

Akhir Sore, Awal Cerita Baru

Ketika acara mulai mendekati penghujung, Dee tetap bersahaja. Ia mengingatkan bahwa stan buku Bentang ada di sebelah, dan ia akan siap menandatangani. “Mumpung penulisnya lagi di sini,” moderator Joanna menimpali Dee.

Sebelum semua benar-benar bubar, sesi ditutup dengan ritual kecil: foto bersama dan ucapan serempak, “Thank you, Mbak Dee!”

Di bawah cahaya senja yang menelusup ke dalam ruangan, para pembaca kembali mengantre, membawa buku, senyum, dan mungkin, sedikit rasa ikhlas yang baru dipelajari. Dalam satu sore yang sederhana namun penuh makna, semesta Dee kembali membuktikan bahwa cerita, musik, dan manusia selalu bisa saling menemukan.***

Catatan redaksi: Liputan ini terselenggara berkat kerja sama Bentang Pustaka, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Festival Sastra Yogyakarta 2025, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.