Lewati ke konten

Peristiwa

Nyi Sadikem dan Gowok Non-Konvensional

July 13, 2025

Diskusi buku novel Nyi Sadikem karya Artie Ahmad, Festival Literasi Yogyakarta, DPAD, Jumat, 11 Juli 2023.

Artie Ahmad mulai menulis Nyi Sadikem, sebuah novel tentang gowok, pada 2021, jauh sebelum film Gowok: Kamasutra Jawa dirilis oleh Hanung Bramantyo pada 2025.

Artie membahas novelnya tersebut di panggung diskusi Festival Literasi Yogyakarta di Gedung DPAD Yogyakarta pada Jumat, 11 Juli 2025, pukul 13.00-15.00. Kanya Kiarra dari Suku Sastra memandu sesi diskusi buku yang juga menghadirkan Erika Rizki dari Komunitas KUMMI sebagai pembahas.

Ketika menulis, Artie belum membaca novel lain yang membahas gowok secara khusus. Belum terlalu banyak yang menulis tentang sosok itu. Yang paling terkenal adalah Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Tetapi, gowok hanya pekerjaan sampingan Srintil dan hanya diceritakan dalam beberapa halaman.

Artie menulis embrio Nyi Sadikem sebagai catatan kasar di buku dan terpikir untuk menciptakan sosok gowok yang tidak lazim. Gowok ciptaan Artie adalah perempuan Indo Belanda bernama Elizabeth van Kirk. Lazimnya, gowok adalah perempuan pribumi Jawa.

Gowok adalah profesi yang sudah lenyap karena dianggap tidak wajar dan tidak sesuai dengan norma ketimuran. Gowok adalah seorang perempuan yang mengajari lelaki muda yang telah memasuki masa akil balig untuk mengetahui seluk beluk dunia orang dewasa, perempuan, dan pernikahan.

Dunia gowok tidak melulu seks, tetapi juga kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Pada dasarnya, gowok adalah seorang guru. Ia akan menolak kalau jasanya dibawa ke ranah seks saja. Ia meminta upah mahal karena ilmu yang diajarkannya lebih banyak daripada yang ditemukan di rumah bordil.

Pengguna jasa gowok biasanya keluarga priayi. Tujuannya agar anak sang priayi tidak memalukan ketika telah benar-benar menikah. Profesi gowok sudah lama ada di daerah berlatar budaya Jawa, bukan hanya Jawa Timur, melainkan juga di Banyumas.

Artie menyusun Nyi Sadikem sebagai fiksi murni. Latar novel ini tidak merujuk ke satu tempat yang dapat dikenali, tetapi jelas ada di Jawa karena latar budaya Jawa sangat jelas terlihat.

Kiarra berkomentar bahwa karakter Elizabeth van Kirk mengingatkannya pada sosok-sosok seperti Nyai Ontosoroh dan Dewi Ayu.

Erika justru teringat pada Annelies Mellema. Ia juga belum menonton film Gowok, hanya trailernya. Tetapi, ia ingat ada karya sastra lain yang ditulis oleh penulis Tionghoa dan terbit pada sekitar 1936. Di situ, diceritakan bahwa bisnis gowok dibawa dari Tiongkok ke Hindia Belanda. Karakter utama di karya itu adalah perempuan Tionghoa.

Erika menyoroti stratifikasi masyarakat kolonial Hindia Belanda menjadi tiga, yaitu Eropa, Timur Asing, dan Pribumi. Orang Indo, seperti Elizabeth van Kirk, terombang-ambing di antara kelas-kelas itu. Elizabeth menjadi menarik bagi Erika karena, walaupun indo, ia memilih untuk menegaskan kejawaannya.

Menjadi gowok bukan pilihan utama Elizabeth. Ia memilih menjadi gowok karena situasi sosial dan ekonomi yang mengimpit. Ia tidak bisa mengakses pekerjaan yang lebih baik atau masuk ke kelas sosial yang lebih tinggi lantaran keterombang-ambingannya. Sedikit banyak, hal ini berpengaruh pada kemarahannya.

Kiarra dan Erika sama-sama melihat adanya repetisi tragedi dan kekerasan seksual yang membangun arsitektur naratif novel Nyi Sadikem. Bagi Erika, novel ini akan menjadi spesimen penelitian menarik untuk melihat bagaimana relasi kuasa berlaku pada perempuan di latar waktu novel.

Artie membangun latar waktu dengan menggunakan kosakata yang banyak dipakai pada era saat tokoh-tokohnya hidup. Ia tak segan memakai kata “rudapaksa” yang berasal dari bahasa Jawa walaupun tetap menggunakan “perkosaan”. Ia juga menghindari stereotipe tentang indo atau blasteran dengan menggunakan sudut pandang orang pertama.

Kiarra mengajukan pertanyaan menggelitik tentang kelas-kelas dalam masyarakat kolonial. Pada hari ini, apakah nasib perempuan yang sering tidak digolongkan sebagai non-pribumi, seperti Elizabeth van Kirk, sama dengan pada masa kolonial. Bagi Artie, peranakan Tionghoa maupun indo pada hari ini lebih bisa diterima oleh masyarakat mayoritas. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahasa Indonesia yang lebih egaliter oleh masyarakat.

Artie dan Erika sama-sama menduga bahwa profesi gowok, kalaupun ada pada hari ini, beroperasi di bawah tanah. Erika melihat pola di mana daerah yang menjadi pusat aktivitas ekonomi juga memiliki aktivitas seksual, misalnya yang sempat diberitakan tentang IKN. Perlu dicari tahu apakah profesi yang mirip gowok juga ada di pusat-pusat ekonomi semacam itu.

Nyi Sadikem memperlihatkan dinamika sebuah profesi yang pernah ada dan kini tidak dijumpai lagi. Dalam narasinya, terungkap sosok perempuan yang harus menghadapi berbagai tantangan struktural agar tetap sintas.

Nyi Sadikem diterbitkan oleh Marjin Kiri. Diskusi tentang buku tersebut diselenggarakan atas kerja sama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Dinas Kebudayaan DIY, Perpustakaan Nasional, dan IKAPI. Hari sebelumnya, di tempat yang sama, Muhammad Qadhafi bersama Aris Eko Nugroho, Eko Triono, dan Berryl Ilham membicarakan generasi muda dan tantangan kepenulisan konten budaya di DIY.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.