Nge-Lantip: Sebuah Catatan
May 9, 2025 · Abdillah Danny
Demi menjaga hubungan, saya terima ajakan ngopi dari kawan-kawan lama. Bagaimana, ya. Dibilang merasa ditunggu kok ya rodok sumbung. Nggak ditunggu itu kok ya hape saya di-chat-i terus. Centang-centung, centang-centung. “Di Mojosari, Mas?” “Sampean wis pulkam ta, Cak?” “Lali omah ta iki arek e?” Bahkan beberapa kali ada yang nekat nge-bel, menelefon, saya yang sok sibuk di kota pendidikan itu.
Dan tibalah malam itu. Saya sudah pulang dan lagi sendiri di rumah. Masih kerasa hawa-hawa Syawal dan euforianya. Kembang mercon masih mengunang-ngunang di langit. Tetangga juga kelihatan pada nompo dayo. Saat itu, Mas Ridholah mulanya yang datang ke rumah. Layaknya shohibul bait saya tawari dia kopi. Tapi sayang, dia doyannya air putih. Ya sudahlah. Saya ambilkan ceret dan gelas, lalu menyodorkan jajan Serena dan Monde.
Ridho ini teman saya di kota perantauan. Cuma dia sudah S-2 dan baru wisuda bulan Ruwah lalu. Sebenarnyalah dia kawan mainnya Mas saya. Tapi tadi Mas sedang keluar rumah. Mungkin pacaran.
“Jadi begitulah rencanaku sama Masmu,” katanya sambil mulai ngerokok A-Mild. Dia bilang bahwa dia ada kepingin membikin iklim diskusi di Mojosari yang ‘begini-begini saja’ itu. Menurutnya, anak-anak muda yang lagi gandrung sama Sound Horeg, atau Herex, dan juga silat-silatan (yang suka tawuran), ada baiknya dibikinkan ruang alternatif. Mereka kudu dikasih kesempatan untuk mengekspresikan diri. Tapi melalui diskusi di warung-warung kopi.
Wah, wah. Demikian jalan pikir seorang diplomat. Tapi biarlah. Dia pasti ada pertimbangan yang saya tidak ada. Wong dia sudah diplomat. Saya sarjana saja belum.
“Mau mbahas apa, Cak?” tanya saya sambil minta rokoknya satu.
“Aku bebas,” Mas Ridho menyilakan, “Tapi Masmu usul untuk bahas tentang AI, kecerdasan artifisial.”
Waduh-duh-duh. Lha Mas Ridho ini lak yo jurusan syariat Islam. Apa jangan-jangan S-2 ganti jurusan? Mbuhlah. Saya mantuk-mantuk saja, macak paham dan setuju. Dalam posisi dia, pastilah gestur kecil dari saya penting untuk menebalkan keyakinannya. Dan selagi nggak ngerusak tandhuran, saya bisa apa selain mendukung niat yang mulia itu. Saya beri ruang lagi untuk Mas Ridho lanjut menjelaskan. Dan saat itulah datang Bulekku Wiwit. Dia tanya di mana Ibuk.
“Ibuk keluar e, Lek Wit, sama Adekku. Reuni di SMANSA, bilangnya,” jawab saya.
Bulek Wiwit lantas nyelonong ke pawon. Saya pun terpaksa mengikut. Sek ya, pamit saya pada Mas Ridho.
Di pawon, ternyatalah Bulek bawa sekeresek janggelan. Ibukmu nitip, jelasnya, ini janggelan dari Krian. Sambil saya simpan dalam kulkas, Bulek Wiwit membuka kebiasaan yang sesuai dengan namanya, Wiwit, Ngawiti, memulai, itu.
“Lhaiyo, Le, Mbakmu Gita itu kok bisa-bisanya jadi murtad, ya?”
Saya mesem saja. Saya tahu ini akan muncul. Yang dimaksud dengan Mbak Gita adalah misan saya. Setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, dia baru pulang Lebaran ini. Sekalinya pulang, eh kok ya sudah jadi Katolik.
“Memang benar ya, darahnya Mbak Gita itu halal hukumnya?”
Ini dia. Saya tahu pertanyaan macam ini juga pasti muncul. Sebab, Pakde Hoirol yang polisi itu tempo hari menelefon grup keluarga sambil marah-marah. Katanya, Mbak Gita telah mengkhianati garis keturunan Bapak Abdullah, Embah saya. Orang yang murtad itu, kata Pakde, halal dibunuh!
Wah, wah. Enteng saja mulut Pakde ini. Mentang-mentang dia sedang dines di luar pulau akhirnya nggak mudik. Apalagi, dia juga bilang bahwa kalau ada yang ragu, tanya saja Dani. Weh, weh, main nyokot saja. Polisi kok hobinya lempar tanggung jawab.
“Kasihan ya Mbak Gita…” saya akhirnya melas. Dan seketika Bulek Wiwit sudah siap menyambut. Sesuai dugaan, dia sebetulnya pun pasti ada pikiran sendiri. Cuma mana berani dia mendebat polisi.
“Namanya juga takdir ya, Le. Kita ini manusia jangan cepat-cepat mutusi,” katanya dengan nada ngersula, “Siapa tahu Mbak Gita lebih nyaman di sana. Kita keluarga yo harusnya suportip, kan. Kalau dia datang mendayo, mertamu, ya kita harus menerima. Wong ya famili, kok.”
Bulek Wiwit pun minta pamit.
Kembalilah saya pada Ridho. Sepertinya saya ada tinggal dia lumayan lama. Kelihatan dari mukanya yang bosan. Saya pun coba menghibur, “Nanti kukenalkan sama Kecap, anaknya Cak Kapit Kauman. Dia punya kamera dan bagus kalau moto-moto. Lumayan untuk dokumentasi acara diskusimu besok.”
Sambil ngomong gitu, datang Kecap sama Arip. Memang panjang umur si Kecap itu. Sayang gayung tak bersambut. People memang come and go. Ridho minta pamit dengan bilang, “Itu juga kalo jadi, Dan.” Dia langsung pergi setelah salaman sama yang baru datang. Ya sudahlah. Dasar diplomat.
Soal Kecap dan Arip, saya langsung bikinkan kopi tanpa perlu bertanya. Mereka dualah kawan pantaran saya. Sudah plek. Mereka percaya, bahkan suka, pada kopi pahit versi saya. Padahal saya cuma mencampur gerusan buah pala pas menggodok air, terus menuangnya ke kopi. Baunya itu lho, bikin pusing-pusing kepala jadi minggat.
“Kemarin aku lewat Jalan Masjid,” goda saya sambil menghidang kopi, “Masyaallah, saya lihat ada sales kulkas lagi istirahat, eh istirahatnya kok ya sambil mbaca buku puisi?” Kecap tersipu-sipu. Saya lanjut saja, “Ada juga mas-mas roti goreng. Lha lagi nggoreng roti kok bisa-bisanya sempat nyambi mbaca buku puisi juga?” Arip ikut tersipu-sipu.
Saya pun pura-pura senyum juga. Padahal dalam hati saya haru. Kemarin hari mereka ada pinjam buku saya. Si Kecap ambil puisinya Chairil. Sementara Arip ambil Pleidoi Malin Kundang-nya Indrian Koto.
“Aku suka yang judulnya Permainan, Mas,” ucap Arip seperti memberi endorsement.
Tak mau kalah, Kecap juga bilang, “Aku suka yang binatang jalang. Kereng, Cik!”
Kami pun lantas mengobrol lepas. Kecap cerita gosip-gosip terbaru seakan saya memang harus tahu. Tentang suara angker dari rumah almarhumah Mantri. Tentang anaknya Pakde ini kecelakaan ranjang sama Bulek itu. Sampai, dia sambat betapa mustahil layang-layang akan kembali dimainkan anak-anak kecil. Ah, Kecap. Anak ini bakat jadi RT.
Beda dengan Arip, kecap cenderung kepingin membahas sajak. Dia tanya mengapa kok puisi itu aneh. Masa ada puisi tentang Malin Kundang. Bukannya puisi itu tentang cinta? Ah, Arip. Habis ini kamu harus pinjam bukuku lagi.
Dan saya usahakan betul pada saat-saat seperti itu supaya lebih banyak mendengar. Bukan karena saya anak kuliahan sementara mereka tidak. Tapi karena saya kangen pada Mojosari. Juga, karena saya habis mbaca sebuah novel, Para Priyayi, Umar Kayam. Bagi saya, setiap kepulangan adalah laku nge-Lantip. Mahasiswa harus paham ritme, keseimbangan, keharmonisan. Mahasiswa mesti pintar-pintar merasa bodoh. Mahasiswa mesti bodoh-bodoh merasa pintar. Ngunu yo ngunu tapi ojok ngunu-ngunu. Mahasiswa mesti mengabdi pada masyarakat. Mengabdi adalah ngelantip. Selamat ulang tahun, Pak Kayam. Matur sembah nuwun.
P.S.: Tulisan ini adalah renungan pasca diskusi santai Umar Kayam dan Kita Saat Ini yang dilaksanakan di Suku Sastra, 30 April 2025. Abdillah Danny menjadi salah satu pemantik dalam diskusi tersebut.
Abdillah Danny
Berasal dari Mojokerto, tergabung dalam komunitas Susastra KMSI UNY dan LFC Van Java. Bisa dihubungi di pos-el (email): abdillahdanny2@gmail.com.
Baca Biografi Selengkapnya →