Lewati ke konten

Peristiwa

Puasa Puisi: Melepas Ketegangan di Tengah Kerunyaman

March 24, 2025

Kredit: Warung Sastra

Ini isi catatan saya tentang acara Puasa Puisi di Warung Sastra pada Jumat, 21 Maret 2025.

Hari ini adalah 20 Ramadhan 1446 H. Satu hari setelah RUU TNI disahkan. Dan Warung Sastra menggelar Puasa Puisi. Suku Sastra menjadi salah satu mitra di sana.

Saya pikir, acara panggung bebas pembacaan puisi semacam itu adalah sesuatu yang patut disyukuri dan mesti dihadiri. Setidaknya, ada ruang pertemuan untuk mengendurkan kekakuan saraf yang belakangan tidak diberi sedikit pun kelonggaran untuk bersantai. Ya, utamanya adalah ketegangan yang disebabkan oleh kegagapan negara dalam menjalankan tugasnya.

Kabar tentang acara di Instagram itu membuat saya seketika teringat pada Neruda. Bagi Neruda, puisi adalah sesuatu yang ditulis dengan darah dan mesti didengarkan dengan darah pula. Sudah sewajarnya jika puisi tidak selesai dengan hanya dibaca dalam hati dan direnungkan, tetapi juga bisa diejawantahkan melalui sebentuk ekspresi fisik secara nyata yang didasarkan pada suara batin masing-masing.

Menurut selebaran yang diunggah Warung Sastra melalui akun Instagramnya, acara bakal dimulai pada pukul 20.00 WIB. Namun, ada catatan pada caption yang tertulis, “Datang ke Warung Sastra, bakda tarawih!” Saya pun menaati apa yang sudah diumumkan. Berarti, jika mengikuti flow tarawih Muhammadiyah, berangkat jam delapan lebih pun masih belum terlambat.

Sebelum azan magrib dikumandangkan, saya keluar dari kos dan menuju sisi utara Yogya untuk mencari tempat berbuka yang sekaligus bisa untuk berlama-lama membuka laptop. Lagi-lagi: Sabana Tak Bertepi, yang menyediakan takjil gratis serta ruang untuk berlama-lama membuka laptop. Pas!

Tidak terasa waktu berlalu, saya keasyikan main laptop—menulis dan mendengarkan musik. Saya lihat jam sudah menunjuk setengah sembilan. Saya cek WhatsApp: ternyata Simbah sudah mengirimkan video yang menandakan acara sudah dimulai. Bergegas saya meluncur.

Saya tiba di Warung Sastra dalam kurang lebih lima belas menit. Acara benar sudah mulai. Dari kejauhan, terdengar MC kondang dari Wonolelo sedang berakrobat kata-kata. Ia mengeluarkan jokes renyah yang cenderung sarkastis terhadap keadaan sosial politik hari ini, terkhusus ke pemerintah. Ya, kerja bagus, Tova. Pengunjung dan/atau calon deklamator puisi yang hadir tergelak dan tampak terhibur.

Saya berjalan dari parkiran dan mendekati kerumunan. Terlihat Mas Dhafi, Irsyad, Simbah, dan Mbak Anis duduk di baris belakang. Jika boleh sedikit saya simpulkan, mereka sedang khusyuk dan larut dalam setiap diksi, setiap baris, bahkan setiap gerak-gerik kawan-kawan deklamator. Memang menggairahkan. Apalagi pembacaan puisi kali ini tambah diiringi oleh aransemen biola yang digesek oleh ahlinya: Mas Kukuh. Saya pun turut hanyut. Ah, terima kasih, Gusti. Hari ini menyenangkan.

Acara terus berlanjut. Kata Tova sebagai pemandu acara, “Ayo, siapa saja boleh angkat tangan, mengajukan diri untuk naik ke atas panggung dan membacakan puisi.” Dan silih berganti para pengunjung antusias membacakan puisi, baik puisi mereka sendiri atau pun karya penyair lain. Aneka ragam bentuk dan isi puisi disajikan dengan cara penyampaian yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki sisi unik yang khas.

Kemudian Simbah bercerita. Katanya, sebelum saya datang tadi ada, satu pembaca bernama Fansyah, seorang mahasiswa dari kampus UTY jurusan teknik informatika. Fansyah baru pertama kali baca puisi di depan umum. Atas rekomendasi Simbah, ia langsung membacakan Nyanyian Suto untuk Fatima dan Nyanyian Fatima untuk Suto dari WS Rendra. Usai membacakan puisi, ia kembali ke tempat duduk dan berkata, “Seru juga baca puisi.”

Ah, memang, keberanian serupa matahari. Saya acungkan jempol kepada Simbah karena berhasil memprovokasi Fansyah. Juga saya sendiri terprovokasi karena cerita yang menyulut itu. Ego saya terpanggil. Sebelum acara berakhir, segera saya hunus dua naskah puisi yang sudah saya siapkan sedari kos. Satu puisi Gus Mus yang berjudul Bila Kutitipkan dan satu lagi karya Jazuli Imam yang berjudul Berbagi Rokok dengan Chairil.

Di teras yang didaulat menjadi panggung, mulanya saya sedikit gugup. Sebentar saya pandangi bulan melayang di langit, tampak begitu segar dan indah tanpa hijab. Saya lihat semua mata terjaga di sekitar. Dari kejauhan, Mas Dhafi juga memantau. Ya, saya berhasil mendapat suntikan energi. Ini kali siap berteriak. Dan alhamdulillah, saya merasa lancar menyampaikannya.

Menjelang pukul sepuluh malam, Tova mengumumkan bahwa acara akan segera disudahi. Warung Sastra memang terletak di tengah permukiman di Kota Jogja. Jika acara terus berlanjut sampai larut, tentu bakal mengganggu warga setempat yang ingin beristirahat. Namun, sebelum benar-benar ditutup, Tova mempersilakan kepada siapa saja jika ada yang ingin menjadi pembaca terakhir.

“Saya, Mas!” seru satu laki-laki gondrong tinggi dari pojokan sambil mengacungkan jarinya.

Tanpa pikir panjang ia langsung beranjak ke atas panggung. Sepertinya dia agak malu atau canggung. Namun, kesan itu lenyap setelah ia memegang mikrofon dan memperkenalkan diri. Dari caranya merebut perhatian pengunjung hingga semua mata tertuju padanya, cukup bisa disimpulkan bahwa ia akrab dengan panggung. Entah panggung orasi, mimbar, atau forum. Yang jelas bukan Panggung Krapyak.

Saya dengarkan ia baik-baik. Saya perhatikan gelagatnya. Pembacaannya terbilang lumayan, menurut saya, meski beberapa intonasinya masih terpatah-patah secara pengucapan. Namun, itu tidak jadi soal karena acara ini bukan lomba atau suatu kompetisi untuk menemukan siapa yang terbaik. Lebih pentingnya ia berani serta bahagia melakukannya. Cukup.

Acara selesai. Beberapa pengunjung berangsur balik, sebagian memilih tetap tinggal. Tova menutupnya dengan rapi. Tidak ada jokes dadakan lagi. Ia hanya menyampaikan impresi dan permintaan maaf kepada pengunjung jika ada salah kata. Klise, memang, tapi itu jauh lebih baik daripada merampas hak orang lain tanpa merasa bersalah.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.