Rapsodi untuk Anakku
September 28, 2026 · Dyah Ruwiyati
Selembar kertas dalam genggaman menghampar di hadapan mataku. Sertifikat penghargaan dari ajang pameran seni rupa bergengsi yang rutin digelar oleh pemerintah D.I. Yogyakarta. Terukir nama Nadya Annisa, bungsuku sebagai seniman rupa. Rasa syukur, bahagia, dan haru membaur mengaduk hati yang mengalir ke segenap pembuluh darah .
Suasana ini mendadak seperti menyeretku dalam lorong waktu 20 tahun silam, di masa ketika inklusi hanya sekadar wacana, dengan posisi yang sama namun suasana hati yang berbeda memegang kertas assessment bahwa buah hatiku terdiagnosa menyandang ASD (Authism Spectrum Disorder) level Mild.
Tidak ada proses denial dalam hatiku atau pertanyaan kenapa harus aku, kenapa harus anakku. Untukku bukan itu masalahnya. Tapi penolakan atas hak dasar anakku untuk memperoleh ruang pendidikan dasar, yang menguarkan amarah di bilik-bilik jantungku.
Dan lembaran-lembaran kertas ini yang jadi alasan. Air mataku terlalu mahal untuk jatuh di hadapan arogansi oknum-oknum yang mengatasnamakan mendidik setiap anak tanpa melihat keberbedaan.
Benteng pertahananku remuk, hatiku penuh luka tak berdarah, saat anakku memeluk boneka kesayangannya dengan flat expression yang merupakan ciri khas neurodivergent spektrum autis, selain loss eye contact, ekolali (repeating).
Dengan nada datar menceracau, “Nadya tidak boleh sekolah di sini lagi, Ibu…,” terucap berulang, tanpa memandangku.
Dan di taman kanak-kanak ke-4 yang menolak, meskipun pada awalnya mengatakan menerima, kesabaranku berbatas, ternyata baru tersadar seorang ibu adalah garda terdepan bagi anaknya.
Sebagai seorang ibu yang kebetulan sangat memiliki kepekaan terhadap tumbuh kembang anak dan membersamainya nyaris 24 jam sehari, yang juga berproses bersama tumbuh kembang anak sulungku. Aku menyadari ada yang berbeda. Meskipun tidak ada anak yang persis sama proses tumbuh kembangnya tapi pasti ada fase umum yang harus ada, cepat atau lambat.
Mesin waktu menyeret lagi kepingan puzzle memoriku.
Saat Nadya memasuki usia sepuluh bulan, aku mengutarakan feeling-ku pada suami. Sangat bersyukur dia menyetujui langkah yang akan kuambil.
Berkonsultasi ke dokter anak, langkah awalku berbekal beberapa buku tumbuh kembang yang kubaca. Masa itu Google belum familiar di kehidupan kami yang belum setahun menghuni Jogja dan hanya mampu mengontrak rumah petak di kota.
Setelah berkonsultasi dengan dokter anak, mulailah kami berjibaku dengan uji BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry), tes penglihatan yang hasilnya tidak bermasalah. Advis lanjutan adalah klinik tumbuh kembang anak nyaris setiap hari.
Banyak tes dan konsultasi melelahkan yang harus kami lewati. Dari hasil assessment, Nadya semula didiagnosa ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder). Sebagai seorang ibu yang lebih mengenal putrinya merasa ada yang janggal dari hasil analisa itu, karena Nadya sama sekali tidak terganggu konsentrasinya, fokusnya, juga tidak cepat terdistraksi, hiperaktif pun tidak.
Assessment ulang. Keluarlah hasil ASD level mild, meskipun loss eye contact tapi kata yang diucapkan sangat jelas meskipun ekolali, satu arah, repeating, mumbling terutama saat ada sesuatu yang tidak biasa terjadi, jadwal berubah, tempat yang tidak sama. Mulai mencari tempat terapi yang moderat dan biaya terjangkau. Terlatih juga melompat dari satu bis kota ke bis kota lain untuk mencapai lokasi rumah sakit atau rumah terapi.
Sampai hampir membuat kami terlupa, kalau sulung kami pun sedang butuh perhatian. Terlebih ketika dia harus masuk sekolah dasar.
Saat itu sebagai orangtua, kami memutuskan untuk menyampaikan perihal adiknya.
“Mas, suatu hari nanti adikmu akan bertumbuh berbeda dengan Mas atau teman-teman yang lain. Yang Adik butuhkan adalah penerimaan kita sebagai keluarga inti. Kita harus membuat yang paling menerima dan memahami, ya, kita,” tuturku kala itu.
“Aku akan sayang dan temani Adik seterusnya, Ibu.” Jawaban itu terasa seperti mata air yang mengguyur jiwaku.
Ternyata Tuhan sesayang dan sebercanda itu. Bukan menghilangkan ujiannya tapi menyediakan juga penyelesaiannya.
Setelah terusir dari 4 sekolah baru di tingkat taman kanak-kanak, tersingkirkan dari sanggar seni yang awalnya menyampaikan siap menerima ABK, mendaftar di beberapa sekolah khusus autis yang semuanya masuk dalam daftar tunggu…
Usia Nadya tidak bisa menunggu untuk dapat sekolah yang mau menerimanya. Selain menjalani terapi di rumah terapi, di rumah aku selalu mengulang materi terapi dari benda-benda sederhana, seperti tepung-tepungan, biji-bijian untuk melatih sensorik motoriknya, mengeringkan bulir-bulir air di tubuhnya menggunakan hair dryer untuk mengaktifkan indera perabanya. Membuat potongan-potongan huruf dari koran dan kalender sebagai sarana untuk calistung dan menciptakan suasana belajar sambil bermain.
Langkah akhirnya kami berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan yang memberi solusi untuk menyekolahkan Nadya di SLB.
Waktu itu yang ada dalam pikiranku, Nadya harus bersekolah bukan untuk akademiknya tapi sebagai proses terapi memperbaiki interaksi sosialnya. Karena selama ini Nadya hanya mau berinteraksi intens dengan kami keluarga intinya. Selebihnya dia lebih senang menyendiri.
Seiring berjalannya waktu, Kota Yogya mulai berbenah dengan mengikis tembok-tembok keberbedaan. Nadya diterima sebagai anggota sebuah komunitas seni rupa, sebuah awal Nadya mulai menemukan keasyikan dengan media gambar. Di mana ada penerimaan, tidak ada karya yang salah, tidak ada karya yang jelek, tidak ada anak yang tidak berbakat. Mulai mendapat kesempatan mengikuti pameran di berbagai event.
Terbuka lagi jalan Nadya saat terima di komunitas tari inklusi.
Sejak itu, banyak jalan untukku bisa membersamai Nadya menemukan minat dan bakatnya.
Bisa bergabung di banyak komunitas yang memberi ruang bertumbuh, memberi ruang kami orang tua untuk saling berbagi, saling menguatkan, menganggap kami ada dan bisa. Salah satunya, komunitas Ba(wa)yang. Filosofi bayang wayang, bayangan tidak akan pernah meninggalkan selama ada sinar menemani memancar di tempat yang membutuhkannya.
Itulah pencapaian untuk anakku saat ini pengakuan sebuah piagam, penghargaan atas dirinya sebagai seorang seniman rupa. Mungkin buat orang lain ini adalah sesuatu yang biasa. Tetapi untukku, pencapaian ini adalah akhir perjuanganku merobohkan tembok stigma yang melabeli keberbedaan.
Aku percaya produk Tuhan tidak ada yang reject. Masing-masing membawa takdir terbaiknya. Seperti anakku dan anak-anak istimewa lainnya. Mereka adalah bintang di langit yang tak sama.
Akan punya waktunya sendiri untuk bersinar.
Sedayu Bantul, 09//09/2026

Dyah Ruwiyati
Dyah Ruwiyati, seorang ibu rumah tangga dengan sepasang anak yang sudah dewasa. Anak pertama laki-laki sudah menikah dan bekerja. Anak kedua perempuan yang istimewa penyandang ASD level Mild. Menekuni dunia menulis sejak duduk di bangku SMP. Sudah menghasilkan 1 buku solo dan 45 antologi. Tergabung di beberapa komunitas membersamai anak.
Baca Biografi Selengkapnya →