Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa
October 11, 2026 · Hans Christian Andersen
Sukusastra-Seekor induk itik sedang mengerami tujuh butir telur di sarangnya. Enam telur menetas dengan cepat menjadi anak itik yang lucu. Namun, telur terakhir membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menetas.
Ketika telur terakhir itu pecah, keluarlah seekor anak burung yang berbeda. Bulunya berwarna abu-abu, tubuhnya besar, dan lehernya terlihat sangat panjang. Keenam saudaranya yang berbulu kuning keemasan langsung menjauhinya.
Induk itik tetap menyayangi anak baru itu dengan sepenuh hati. Mereka berjalan bersama menuju kolam untuk mencari makan pertama kali. Di perjalanan, mereka bertemu dengan banyak hewan lain yang ada di peternakan.
Sayangnya, hewan-hewan lain justru mengejek fisik anak itik terakhir itu. Mereka menyebut anak itik abu-abu itu dengan nama Si Buruk Rupa. Saudara-saudaranya ikut terpengaruh dan mulai membenci kehadiran dirinya.
Si Buruk Rupa merasa sangat sedih karena selalu dihina setiap hari. Ia menangis sendirian di malam hari yang gelap dan dingin. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi dari rumah agar tidak membebani ibunya.
Ia berjalan sangat jauh hingga menemukan sebuah kolam yang berair jernih. Di sana, ia bertanya kepada seekor bangau tentang asal-usul dirinya. Namun, bangau menegaskan bahwa anak itik sejati selalu berbulu kuning indah.
Perjalanan berlanjut hingga seorang nenek menangkapnya saat ia sedang tertidur. Nenek itu memasukkan Si Buruk Rupa ke dalam sebuah kandang kayu. Ia diberi makan sangat banyak agar tubuhnya menjadi cepat gemuk.
Si Buruk Rupa bertanya kepada itik lain di dalam kandang tersebut. Itik itu menjelaskan bahwa nenek akan memasaknya menjadi hidangan makan malam. Mendengar hal itu, Si Buruk Rupa ketakutan dan berhenti makan.
Ketika nenek lupa mengunci kandang, Si Buruk Rupa langsung melarikan diri. Musim dingin tiba dan tubuhnya menggigil hebat di dekat danau yang membeku. Beruntung, seorang petani baik hati datang menyelamatkan nyawanya.
Petani membawa dia pulang dan merawatnya bersama anak-anak yang penyayang. Si Buruk Rupa mendapatkan makanan yang lezat dan tempat tinggal yang hangat. Namun, ia tetap berniat pergi karena takut akan dimakan manusia.
Saat musim semi tiba, petani melepaskannya kembali ke danau yang luas. Tiba-tiba, sekelompok burung angsa putih yang sangat cantik mendarat di air. Si Buruk Rupa berniat sembunyi karena takut dihina lagi.
Salah satu angsa justru mendekat dan menyapanya dengan sangat ramah. Si Buruk Rupa menunduk malu dan melihat bayangan dirinya di atas air. Ia terkejut karena bulunya kini sudah berubah menjadi putih bersih.
Ia bukan anak itik yang buruk rupa seperti dugaan semua orang. Ia adalah seekor angsa muda yang sangat tampan dan anggun. Angsa-angsa lain menyambutnya dengan gembira sebagai anggota keluarga yang baru.
Setiap makhluk hidup memiliki keunikan dan masa depan yang berbeda. Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya saja. Kesabaran dalam menghadapi ejekan akan membuahkan kebahagiaan yang indah pada waktunya. Rasa percaya diri dan ketabahan adalah kunci utama untuk menemukan jati diri sejati kita.
Hans Christian Andersen
Profil penulis Hans Christian Andersen.
Baca Biografi Selengkapnya →