Lewati ke konten

Cinta untuk Bima

September 28, 2026 · Nela Juita

Ketika Bima, anak keduaku, berusia sekitar lima tahun, dokter di RS Hermina memvonisnya autis. Saat itu, ekonomiku sedang terpuruk. Aku bingung. Aku merasa langit runtuh. Aku merasa hancur. Aku merasa gagal menjadi seorang ibu. Rasanya seperti ada bongkahan batu besar yang menindihku. Napasku terasa sesak mendengar pernyataan tersebut.

Langit malam terlihat lebih gelap malam itu. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku berputar-putar berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Sampai rumah, tangisku pecah, tak henti hentinya aku menyalahkan diri sendiri. Aku merasa tak berguna.

Tapi, suamiku selalu membesarkan hatiku, menguatkan aku. Padahal, aku sendiri yakin, kondisinya juga tidak lebih baik dariku. Namun, melihatku yang terus menangis menyalahkan diri sendiri dan keadaan, ia mengucapkan kata-kata yang membuatku sadar. 

Dia mengingatkan bahwa kami berhasil mengasuh Zhafira, anak kami yang pertama. Putri sulung kami itu bahkan ikut olimpiade matematika tingkat SD. Suamiku berkata bahwa kami tidak akan membedakan cara mendidik keduanya. Hanya, kondisi anak kedua memang membutuhkan pendampingan ekstra. Di situ, aku mulai sadar dan mencoba untuk menerima.

Di kampung halaman, saat pertama kubawa anakku konsultasi, tidak kudapat hasil yang memuaskan. Di faskes 1, aku hanya diberi lembaran kertas dan kuesioner. Membaca kuesioner tersebut membuatku merenung karena anakku belum bisa di semua poin yang ada dalam kuesioner. Ya Allah, ternyata banyak PR anakku yang belum bisa. Tak terasa air mataku menetes.

Kembali kami menyerahkan kuesioner tersebut, yang sudah kami isi dengan hati cemas. Apa yang akan terjadi? Dan dari kuesioner tersebut, dokter menyarankan untuk segera membawa anak kami ke fasilitas lanjutan yang lebih khusus karena di faskes 1 itu mereka tidak bisa menangani. Aku merasa ada secercah harapan.

Tapi, harapan tidak semudah bayangan. Saat itu, kami terkendala jaminan kesehatan. Napasku terasa berat. Di saat anak butuh segera ditangani, kami terkendala persyaratan. 

Bukan tidak ada jalan lain, tapi karena kondisi kami memang saat itu cukup sulit sehingga tidak memungkinkan untuk konsultasi dan terapi di klinik swasta.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu saja jaminan kesehatan itu terdaftar. Kami sadar, untuk perawatan tersebut membutuhkan waktu yang panjang dan dengan biaya yang tidak sedikit bagi kami.

Sembari menunggu jaminan kesehatan itu terdaftar, kondisi anakku semakin tidak terkontrol. Saat malam, saat anak seusianya mudah lelap tertidur, berbeda dengan anakku. 

Di tengah malam, ia malah masih asyik bermain.

Saat itu, aku masih menganggapnya wajar. Aku berpikir karena dia baru saja disapih jadi dia masih beradaptasi. Jadi, sebisa mungkin, walau lelah di siang hari, aku tetap menemaninya.

Hari berlalu, bulan berganti, dan ia masih seperti itu. Sering kali dini hari ia baru bisa tertidur, dan tentunya pagi hari ia masih nyenyak hingga untuk posyandu beberapa kali izin karena dia masih tidur. 

Saat bermain, dia senang menjejerkan mobil-mobilan dan semua permainan. Dan sekarang aku tahu ternyata itu adalah salah satu tanda dari anak autis.

Aku mulai mencari informasi tentang solusi anak yang terlambat bicara, yang sulit fokus, dan hiperaktif. Kemudian aku coba mempraktikkannya. Tapi, belum ada perubahan yang signifikan.

Bulan berlalu, minggu berganti. Bima masih belum mau menoleh juga saat kupanggil. Tapi, ia akan  begitu antusias ketika mendengar suara kartun kesayangannya di TV. Saat TV menampilkan hal yang lucu, ia akan mudah tertawa. Sebaliknya, bila TV menampilkan hal yang membuatnya sedih, ia akan ikut menangis hingga tersedu. 

Sejak kecil, Bima senang bermain dengan kakaknya, sering berebut mainan atau barang. Sempat bisa menirukan kata juga, dan bisa merespons permainan cilukba. Tapi, entah mengapa, progress-nya malah hilang. Dia menjadi susah diam dan tantruman.

Masuk di usia empat tahun kurang, aku mulai kewalahan mengurusnya sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk menyusul suami ke Yogyakarta dan berharap ke depannya mendapatkan penanganan lebih lengkap untuk Bima. Saat kami pergi, jaminan kesehatan itu masih belum terkonfirmasi.

Datang ke tempat baru mendapat tantangan baru. Selama satu minggu, Bima rewel dan  selalu mengajak ke jalan raya. Mungkin kalau dia sudah bisa bicara dia akan berkata, “Mah, Bima ingin pulang. Bima rindu mainan-mainan Bima, rindu lari-lari di rumah, mengacak-ngacak perabotan, lari-lari menjelajah setiap ruangan.” Namun, dia hanya ungkapkan dengan  menarik tangan mengajak ke jalan duduk di gapura dan melihat kendaraan yang berlalu lalang.

Begitupun anak pertamaku. Hidup di perantauan tidak ada dalam bayangannya sebelumnya. Hatiku terasa teriris melihat perjalanan mereka di usia belia harus menemani perjuangan orang tuanya. 

Walaupun belum tahu ke depannya seperti apa, aku selalu meyakinkan mereka: “Sabar ya, Neng, mungkin ini jalan dari Allah untuk kita. Insyaallah ini yang terbaik untuk Neng (panggilan untuk anak pertamaku), untuk Dede juga.”

Aku bersyukur karena anak pertamaku mudah beradaptasi dan seiring berjalannya waktu mereka mulai terbiasa.

Dan di sini, spektrum Bima bertambah. Dia sering tantrum siang, atau saat malam dia menangis dan berteriak-teriak. Yang lebih parah, dia tantrum dan menyakiti diri sendiri, seperti menggigit tangan dan mencakar pipinya sendiri. Sampai sekarang, bekasnya masih ada walau sedikit samar.

Melihatnya menangis membuat hatiku perih. Sering kali juga aku ikut menangis. Setiap hari energiku rasanya habis. Sekuat tenaga aku berusaha untuk mengendalikan emosiku supaya tidak mudah terpancing. 

Tapi tetap saja selalu ada tingkah tingkahnya yang menguji kesabaran. Perilaku Bima semakin tidak terkontrol. Lengah sedikit dia kabur. Ada saja  barang atau makanan yang ia tumpahkan kalau tidak diawasi.

Tapi, alhamdulillah, di sini kami menemukan setitik harapan. Badai yang sebelumnya menerjang mulai mereda. 

Kami mulai terapi pertama, yaitu fisioterapi. Dua minggu full kami disarankan. Akhirnya kami ikuti. 

Setelah sekian bulan akhirnya ada  perubahan. Bima mau membuka mulutnya dan menyikat gigi. Bagi kami, anak istimewa kami mau sikat gigi pun adalah sebuah pencapaian.

Tapi, lagi-lagi kami harus dihadapkan dengan kenyataan. Ekonomi kami kembali menurun, sehingga dengan terpaksa terapi di klinik swasta tersebut harus berhenti karena terkendala biaya.

Aku kembali dilanda kegundahan. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sementara jika hanya mengandalkan terapi dari rumah berbekal dari YouTube rasanya tidak maksimal, dengan kondisi  anakku yang masih sangat butuh pendampingan dokter dan terapis.

Dengan terpaksa akhirnya kami hanya bisa berusaha semaksimal apa yang kami bisa, dan tak henti melangitkan doa.

Di tengah kebingungan ini, Zhafira sakit. Berbeda dari biasanya, tiga hari kondisinya belum membaik. Kami memutuskan membawanya ke Puskesmas.

Dan berawal dari pemeriksaan Zhafira akhirnya diketahui jaminan kesehatan yang kurang lebih dua tahun dulu kami ajukan kini sudah terdaftar.  

Bersyukur dipertemukan dengan dokter dan petugas Puskesmas yang baik di tempat anakku berobat, beliau bahkan membuatkan rujukan setelah konsultasi. Ternyata dengan ini Allah menunjukan jalan untuk kami.

Berangsur kondisi kakaknya semakin membaik, kami melanjutkan kembali progress Bima yang sudah tertinggal.

Selama dua tahun kurang Bima menjalani terapi sensori integrasi, terapi wicara, terapi okupasi, dan pendampingan dari DSA di RS Hermina.

Selain terapi, Bima saya masukan sekolah TK, untuk melatih sosialisasinya. Tapi di TK dia tidak bisa beradaptasi dan berbaur dengan temannya, di sekolah dia lebih senang menyendiri dan bermain pasir. 

Teringat kala itu momen haru perpisahan teman-teman sekelas Bima sedang berada di atas panggung memakai toga menyanyikan lagu, dan setelahnya para bunda memberikan buket kepada putra-putri mereka sebagai apresiasi.

Sedangkan Bima, ia berada di pangkuanku, tanpa mengerti situasi apa yang sedang terjadi. Aku hanya bisa memeluknya, dan dengan air mata menggenang di pelupuk mata aku berbisik, “Nggak papa, ya, Dek, biarpun Dede nggak seperti teman-teman yang lain, Mamah tetep bangga sama Dede.” Dia mencium pipiku dan membalas dengan tawa kecil khas seperti anak usia 2 tahun, lalu asik kembali memainkan camilan di depannya.

Dia belum bisa mengerti dengan kondisi sekitarnya, tapi dia suka mengungkapan rasa senangnya dengan memeluk dan mencium.

Bersyukur waktu itu, biarpun di sekolah umum, Bima mendapat guru-guru dan teman-teman yang sayang sama Bima. 

Untuk kebaikannya, kami mulai mencari sekolah khusus untuk Bima. Karena kami sadar dengan kondisi Bima, tidak memungkinkan untuk melanjutkan kembali di sekolah tersebut walaupun pihak sekolah tidak keberatan.

Dari rekomendasi teman, alhamdulillah akhirnya Bima bisa mendaftar di SLB Yapenas, Condongcatur. Dan diterima dengan hangat.

Tepat usia 7, 5 tahun Bima masuk SDLB. Di sini saya tidak lagi merasa sendirian. Karena bisa bertemu dan berbagi cerita dengan para orang tua yang sama-sama sedang berjuang, dan mendampingi anak berkebutuhan khusus tentunya dengan spektrum yang berbeda-beda.

Anak-anak belajar sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, bersama guru-guru yang  mempunyai dedikasi yang luar biasa.

Mereka bukan hanya mengajar tapi menjadi orang tua kedua, sekaligus terapis, dan pejuang, pejuang tanpa tanda jasa tapi penuh cinta kasih. Yang tak hanya mengajar dengan tangan tapi dengan hati dan pelukan. Terima kasih keluarga besar SLB Yapenas.

Memasuki usia sekolah dasar, dengan berat hati terapi di rumah sakit sudah tidak bisa dilanjutkan, karena BPJS membatasi untuk terapi sampai di usia 7 tahun.

Untuk konsul DSA masih bisa, tapi kami terkendala rujukan karena faskes masih di Jawa Barat dan ternyata tidak semua puskesmas bersedia untuk memberikan rujukan.

Pernah suatu ketika meminta rujukan yang kedua kalinya di salah satu faskes, aku malah dinasehati panjang-lebar. “Kalau Ibu masih lama tinggal di sini dan masih butuh buat anak Ibu, harusnya Ibu pindah ke sini. Kita di sini kalau memberikan rujukan kepada Ibu, kita tidak dapat apa-apa karena faskes Ibu masih di Jawa Barat,” tegas seorang nakes. Dan karena dalam pikiranku beranggapan slogan “Melayani dengan sepenuh hati” aku pikir semua faskes begitu adanya. 

Karena di faskes sebelum-sebelumnya tidak ada kendala (dalam aturan maksimal boleh 3x toleransi rujukan untuk faskes di luar daerah) aku pikir pun begitu masih bisa karena ke faskes tersebut baru minta yang kedua.

Aku menjawab, “Bu, maaf, saya kan cuma minta rujukan, selembar kertas,” dengan nada mengiba, berharap hati ibu itu luluh. Dan ibu itu pun menjawab, “Iya, selembar kertas, tapi nanti konsultasinya?”  Deg! Saat itu juga aku tidak ingin lagi debat panjang lebar, aku langsung berpamitan pulang dengan tangan hampa.

Aku tidak menyalahkan faskes tersebut, karena mungkin mereka juga bertindak atas aturan, tapi apakah bisa disampaikan dengan lebih halus? (Fyi, mungkin ibunya sedang sensi, hehe…). 

Tapi tidak semua ya seperti ini, sebelum-sebelumnya faskes yang aku datangi ramah-ramah semua. Tapi kejadian ini yang membuat aku tidak mau untuk meminta rujukan kembali.

Kenapa kami tidak memutuskan untuk pindah ke sini, karena kami punya pertimbangan tersendiri.

Pindah untuk kami masih wacana, karena belum punya tempat tinggal yang tetap dan perekonomian yang masih labil.

Tapi aku tidak berhenti untuk mencari solusi. Aku mencari informasi kepada teman-teman di sekolah Bima untuk terapi yang terjangkau dan tidak memerlukan surat-surat pengantar atau semacamnya, supaya anakku bisa terapi lagi.

Alhamdulillah, akhirnya usahaku tidak sia-sia. Berbekal informasi dari  seorang teman, sekarang Bima sudah mendapatkan tempat terapi yang nyaman, dengan biaya yang terjangkau bagi kami, dan tentunya tidak memerlukan surat-surat rujukan yang  membuat kami lelah.

Dengan sekolah dan terapi yang rutin, semoga perkembangan Bima bisa lebih baik lagi, dan bisa menemukan bakatnya. Dan berharap suatu hari nanti Bima bisa membaca tulisan mamanya ini.

Alhamdulillah, perkembangan itu kini sudah mulai terlihat. Dia lebih tenang, tidak gampang tantrum tanpa sebab. Tidak lagi begadang sampai dini hari. Sudah bisa menggunting dan menempel, mewarnai walau masih sesuka hati. Bisa berpakaian sendiri, walau untuk kemeja dan celana berkancing masih perlu bantuan. Kini ia bisa memandang mataku lebih fokus, walau untuk bicara masih belum bisa mengucapkan satu kata yang bermakna.  

Alhamdulillah, untuk kami semua itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa.

Terima kasih untuk semua yang sudah mencintai dan menerima Bima dengan keistimewaannya.

Terima kasih juga untuk putri sulungku yang sedari kecil sudah mau membantu mamanya dalam menjaga adik dan sangat menyayanginya. Kini ia sudah mengerti bahwa adiknya istimewa.

Dari Bima, aku banyak belajar. Salah satunya adalah mendampingi anak bukan untuk perlombaan lebih baik dari anak lain, melainkan untuk belajar lebih baik dari ia yang sebelumnya.  

Terima kasih, Bima, mendampingimu ternyata menyadarkan kami, bahwa kamulah yang mengajari kami banyak hal.

Kini, Mama sudah kuat, Nak, tak lagi rapuh seperti dulu. Kami mencintaimu, Bima.

Ke depannya, aku berharap Bima  bisa menyelesaikan akademiknya setinggi mungkin. 

Untuk pemerintah, kami berterima kasih atas program jaminan kesehatan.

Sebagai perantau dan orang tua dengan anak istimewa, aku berharap semoga ke depannya pemerintah bisa memudahkan lagi dalam penggunaan jaminan kesehatan, entah itu jaminan kesehatan dari pemerintah ataupun jaminan kesehatan mandiri. Sehingga, kami bisa menggunakan faskes di seluruh wilayah di Indonesia, bukan hanya faskes yang tertera di dokumen jaminan kesehatan kami. 

Semoga negara juga bisa hadir untuk meningkatkan kesejahteraan para guru, baik guru sekolah tipikal maupun sekolah luar biasa, khususnya guru honorer yang sudah berjuang dan memberikan dedikasi yang luar biasa untuk anak-anak di negeri ini. Guru adalah pelita di tengah kegelapan.

 

 

N
Tentang Penulis

Nela Juita

Lahir: Kuningan, Jawa Barat, 25 April 1994

Nela Juita kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 25 April 1994, seorang Ibu Rumah tangga dan pelajar Paket C di Yogyakarta. Bercita-cita suatu hari bisa masuk fakultas psikologi.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.