Lewati ke konten

Cinta Tanpa Batas

September 28, 2026 · Banjar Sasongko

Aku mengenal istriku pada tahun 2013 di sebuah komunitas tuli di Yogya. Saat itu, aku juga bekerja di kantor komunitas itu. Jadi, sebenarnya kami cinlok. Kami sama-sama mengikuti kegiatan yang ada di sana. Dunia disabilitas yang tidak asing bagiku ternyata membawaku bertemu jodohku. Sebenarnya, ini juga atas andil teman-temanku. Singkat cerita, kami berkenalan dan semakin sering mengobrol intens. Ternyata nyaman juga ngobrol dengan wanita bernama Vero Anik ini. Vero bekerja di salah satu yayasan anak dengan kanker di Yogya. Vero adalah seorang penyintas kanker tulang. Vero didiagnosa kanker tulang di kaki kanan pada tahun 2006. Tahun 2010, Vero diamputasi kaki kanan.

Ketika Vero memotivasi sesama penyintas kanker, aku selalu mendampingi. Terkadang diundang acara talk show maupun seminar di kampus. Hatiku semakin mantap untuk menjadikannya istri. Dari perkenalan, berpacaran, hingga ke pernikahan tidak membutuhkan waktu yang lama. Ketika memperkenalkan ke keluarga besarku dan Bapak, alhamdulillah mereka menerima. Kami pun menikah, bahagia kami saling melengkapi. Ketika hamil, Vero masih melakukan kegiatan sosial. Aku khawatir dengan kondisi istri ketika berkegiatan sosial. Ketika kontrol ke dokter obgyn, karena kondisi istri difabel kemudian dokter menyarankan tindakan SC. Alhamdulillah, tindakan SC lancar dan buah hati kami lahir. Kami namakan Langit Biru Abeandra Sasongko, seorang anak laki laki yang memiliki cita-cita setinggi langit.

Tahun 2019 akhir, Vero kembali harus menjalani pengobatan. Karena didiagnosa ada nodul di paru sebelah kanan bawah ±1 cm. Dan diharuskan operasi diambil satu bagian lobus paru kanan bawah. Ketika di ruang tunggu operasi, menunggu dengan tegang, cemas, dan waktu terasa berjalan lambat. Doa tak henti kulakukan. Alhamdulillah, operasi selesai dan berjalan lancar. Selepas operasi istri langsung ditempatkan di ruang ICU. Pertama kalinya aku melihat istri di ruang ICU, ada kekhawatiran banyak selang dan monitor yang menampilkan kondisi tubuh, detak jantung, kadar oksigen, hatiku berkecamuk apakah bisa survive? Aku menguatkan hatiku, aku yakin pasti bisa melewati semua. Seminggu di rumah sakit, akhirnya pulang. Abe yang kangen ditinggal ibunya seminggu akhirnya bisa melepas rindu.

Kondisi disabilitas terkadang dianggap tidak mampu. Tetapi Vero mampu menjalani perannya sebagai istri dan ibu dari anakku. Keluarga sejatinya adalah saling melengkapi, seperti keluarga kecil kami. Abe selalu sigap ketika ibunya sedang sakit. Sering memijit dan bila memerlukan bantuan kami berdua selalu siap siaga. Ketika Vero capek, aku menggantikan memasak meskipun masakan sederhana saja. Abe sering cerita ke temannya, kalau ibunya memakai kaki palsu seperti di film Nusa. Ketika ibunya menjemput, Abe menunjukkan kaki palsu ibunya. Setiap hari kami bertiga berpelukan memberikan rasa aman dan nyaman. Pelukan merupakan healing terbaik, menjadi lebih erat, hangat, dan kasih sayang.

Sampai saat ini, Vero masih rutin kontrol di salah satu rumah sakit di Yogya. Terkadang aku menemani kontrol supaya tidak capek. Terkadang Vero mengeluh tentang parkir khusus difabel di rumah sakit tersebut. Ada parkir difabel tetapi kebanyakan yang parkir orang umum. Di beberapa tempat umum masih ada yang belum akses difabel, seperti ramp, toilet difabel, ataupun kursi roda.

Pernah kejadian di sore hari ketika Vero menaiki angkutan Trans Jogja, tidak bisa masuk dengan alasan bus penuh. Sudah menunjukkan kaki palsu bahwa Vero disabilitas, tetap saja tidak diijinkan masuk, padahal masih bisa masuk beberapa orang. Sampai beberapa penumpang bilang ke petugas halte harusnya prioritas. Akhirnya, bus Trans Jogja selanjutnya mendapat petugas bus yang baik dan mempersilakan masuk.

Vero juga mengeluh desilnya kok 6-10 berbeda dengan kondisi keadaan yang sebenarnya. Ada kekhawatiran BPJS PBI hilang karena Vero sering menggunakan layanan kesehatan tersebut. Sudah mempunyai KPD (Kartu Penyandang Disabilitas), Vero belum pernah mendapatkan akses layanan publik. Vero masih menjumpai diskriminasi di pekerjaan. Ketika itu, Vero menjadi volunteer, dan owner bilang, “Vero tidak bisa jadi karyawan karena faktor keterbatasan.” Vero kecewa. Kondisi disabilitas masih dianggap tidak bisa bahkan tidak mampu, membuat jadi tidak berdaya dan tidak percaya diri. Penyandang disabilitas adalah individu yang memiliki kemampuan dan potensi besar untuk berkarya, serta berpartisipasi mandiri jika diberikan akses, fasilitas dan dukungan yang setara.

Vero berharap agar Indonesia menjadi negara yang inklusif mewujudkan yang adil, setara, dan ramah bagi semua termasuk penyandang disabilitas.

 

B
Tentang Penulis

Banjar Sasongko

Lahir: Banjarmasin, 28 Januari 1980

Banjar Sasongko lahir pada 28 Januari 1980 di Banjarmasin dan tinggal di Yogyakarta. Pekerja lepas dan aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan seperti donor darah dan kegiatan lainnya. Suka menulis, menggambar, bermain musik, dan suka dengan sastra Jawa.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.