Kamu Bisa, Aku Bisa, Kita Sama: Jemari yang Bicara, Hati yang Mendengar
September 29, 2026 · Iies Arum Wardhani
Rumah kami di Magelang dulunya dipenuhi sunyi yang membingungkan. Bukan karena tidak ada suara. Justru sebaliknya, rumah selalu dipenuhi percakapan, tawa, suara televisi, dan panggilan seorang ibu kepada anaknya. Namun, di tengah semua suara itu, ada seorang anak yang seperti hidup di ruang berbeda. Udana, putra kecilku, seolah berada di balik dinding kaca. Ia bisa melihat dunia bergerak, tetapi tidak selalu dapat menangkap apa yang sedang dunia katakan kepadanya.
Saat Udana berusia 1,5 tahun, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda. Sebagai orang tua Dengar, aku tidak siap menerima kenyataan itu. Ada ketakutan, penolakan, dan pertanyaan dalam hati, “Mengapa harus anakku? Mengapa harus kami?”
Ketika akhirnya diketahui bahwa Udana adalah anak Tuli, aku semakin erat menggenggam tangannya. Saat berusia tiga tahun, aku memutuskan berpindah ke Yogyakarta demi mencari terapi dan pendidikan terbaik untuknya. Bagiku, saat itu, yang terpenting adalah membuat Udana mampu mengejar dunia.
Selama dua belas tahun, Udana menghabiskan masa kecilnya di Sekolah Luar Biasa, sejak pra-TK hingga SD. Aku ingin memberikan yang terbaik. Aku ingin ia mampu berbicara seperti anak-anak lain dan mendengar dunia seperti kami yang Dengar. Namun, tanpa kusadari, di balik keinginanku itu ada satu hal yang sangat kuat: aku ingin Udana menyesuaikan diri dengan duniaku. Aku menolak kenyataan bahwa anakku berbeda. Bahasa isyarat bahkan sempat kuanggap asing dan sebisa mungkin harus dihindari. Dalam pikiranku, semakin sedikit perbedaan yang terlihat, semakin baik masa depan anakku. Ternyata aku keliru.
“Ibu, suaraku jelek. Ibu aja yang ngomong.” Kalimat sederhana itu menjadi luka yang tidak pernah kulupakan sekaligus membuka mataku. Udana tahu bahwa cara bicaranya berbeda. Ia tahu orang lain mungkin tidak selalu memahami ucapannya. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku terlalu sibuk memperbaiki cara Udana berkomunikasi, tetapi lupa bertanya apakah selama ini ia merasa benar-benar didengarkan.
Ketika Udana semakin besar, rasa ingin tahunya berkembang pesat. Ia ingin mengetahui tentang sains, teknologi, kehidupan, manusia, dan berbagai hal di sekelilingnya. Ia memiliki banyak pertanyaan, tetapi aku kesulitan memberikan jawaban yang utuh. Aku berbicara lebih lambat, mengulang kalimat, menggunakan gerakan tangan seadanya, menggambar, dan menulis. Namun tetap ada informasi yang hilang di antara kami.
Komunikasi kami seperti jembatan yang hanya dibangun separuh. Di satu sisi, ada aku dengan bahasa dan cara komunikasiku. Di sisi lain, ada Udana dengan dunianya sendiri. Kami sama-sama ingin menyeberang, tetapi tidak tahu bagaimana menyelesaikan jembatan itu. Jarak di antara kami bukan karena kami tidak saling menyayangi. Justru karena kami sangat menyayangi satu sama lain, tetapi tidak memiliki bahasa yang sama untuk menyampaikan seluruh isi hati.
Aku mengikuti berbagai seminar dan kelas parenting untuk mencari cara mengurangi jarak antara aku dan Udana. Sampai akhirnya Tuhan membawa kami pada sebuah pertemuan yang mengubah jalan hidup kami. Sebuah seminar mempertemukanku dengan Deaf Art Community. Untuk pertama kalinya, aku melihat dunia dari sudut pandang berbeda. Aku bertemu orang-orang Tuli yang berkarya, berkomunikasi, tertawa, berdiskusi, dan menunjukkan bahwa ketulian bukanlah akhir dari kehidupan. Justru aku yang merasa kecil.
Di sana terdapat sebuah kalimat sederhana yang perlahan meruntuhkan keangkuhanku sebagai orang
Dengar: “Kamu bisa, aku bisa, kita sama.” Kalimat itu seolah berbicara langsung kepadaku. Aku mulai memahami bahwa kesetaraan bukan berarti membuat seseorang yang berbeda menjadi sama dengan kita. Kesetaraan adalah memberikan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, bermimpi, dan menunjukkan kemampuan. Kalau kamu bisa, aku pasti bisa. Jadi kita bisa sama-sama saling memahami.
Aku juga mulai memahami bahwa komunikasi bukan sekadar seseorang berbicara dan orang lain mendengarkan. Komunikasi adalah tentang saling. Saling memberi, menerima, memahami, menunggu, belajar, dan menyesuaikan.
Titik balik semakin kuat ketika kami dipertemukan dengan Sekolah Semangat Tuli. Di sana, egoku benar-benar runtuh. Aku mulai melihat bahasa isyarat bukan sebagai sesuatu yang aneh, tetapi sebagai bahasa yang memiliki keindahan dan kekuatan untuk membuka pintu menuju dunia Udana.
Aku mulai belajar bahasa isyarat. Tidak mudah. Tanganku kaku, sering lupa kosakata, gerakanku tidak luwes, dan terkadang salah memahami isyarat. Namun untuk pertama kalinya aku merasa sedang berjalan menuju dunia anakku, bukan terus memaksanya datang ke duniaku. Perlahan sesuatu berubah. Udana mulai memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita. Aku bisa bertanya dan ia bisa menjawab. Aku bisa menjelaskan sesuatu dan ia bisa bertanya kembali. Untuk pertama kalinya, percakapan kami terasa seperti percakapan dua manusia yang setara.
Aku menuntut Udana memahami duniaku, sementara aku menutup mata terhadap dunianya. Aku ingin ia berbicara seperti aku, tetapi lupa bahwa berbicara tidak selalu harus menggunakan mulut. Malam itu aku menyadari, mungkin akulah yang sebenarnya tuli. Tuli terhadap jeritan hati anakku sendiri. Bahasa isyarat yang dahulu ingin kuhindari justru menjadi obat yang menyembuhkan luka di antara kami. Bahasa isyarat tidak hanya mengubah cara kami berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara aku melihat Udana.
Aku tidak lagi melihatnya sebagai anak yang harus diperbaiki. Aku melihatnya sebagai anak yang memiliki dunia, kemampuan, impian, dan cara sendiri untuk menaklukkan kehidupan. Perjalanan itu kemudian membawaku menjadi Juru Bahasa Isyarat di Rumah Sakit tempatku bekerja. Aku berusaha menjembatani komunikasi antara pasien Tuli dan tenaga kesehatan.
Menjadi juru bahasa isyarat bukan sekadar menghafalkan kosakata dan menggerakkan tangan. Ada konteks, budaya, ekspresi, istilah, dan latar belakang yang harus dipahami. Terlebih dalam konteks kesehatan, makna informasi harus tersampaikan dengan utuh. Pasien Tuli memiliki hak yang sama untuk memahami kondisi tubuhnya, mengetahui diagnosis, memahami prosedur, mengetahui pilihan pengobatan, menyampaikan keluhan, dan mengambil keputusan atas dirinya sendiri.
Setiap kali tanganku bergerak menerjemahkan informasi, aku selalu teringat pada Udana. Aku teringat seorang anak kecil yang dahulu hanya ingin dipahami oleh ibunya. Aku tidak ingin anak-anak Tuli lainnya merasakan kesepian yang pernah dirasakan Udana. Aku ingin mereka tahu bahwa mereka bisa. Aku ingin orang tua mereka tahu bahwa mereka juga bisa. Dan yang paling penting, aku ingin kita semua memahami bahwa kita bisa berjalan bersama.
Kamu Bisa. Aku Bisa. Kita Sama.
Aku tidak ingin langkahku berhenti hanya pada Udana. Bersama beberapa teman di dunia maya, aku memulai komunitas Keluarga Bisindo, ruang tempat para orang tua anak Tuli saling berbagi cerita, keresahan, pengalaman, dan kekuatan. Di sana aku menemukan banyak orang tua dengan kegelisahan serupa. Ada yang sedang belajar menerima, mencari sekolah, mencari informasi kesehatan, dan berusaha memahami anaknya. Ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk berkata, “Kamu tidak sendirian.”
Namun, dukungan melalui layar memiliki batas. Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang memiliki tekad yang sama: para orang tua yang bersedia meruntuhkan ego, belajar kembali, mengakui ketidaktahuan, dan tumbuh bersama anak-anak mereka. Hingga akhirnya aku dipertemukan dengan Ba(Wa)yang dan emak-emak hebat yang memiliki tekad yang sama. Di antara mereka, aku menemukan rasa bahwa aku tidak sendirian.
Ketika satu orang lelah, yang lain menguatkan. Ketika satu orang bingung, yang lain berbagi pengalaman. Ketika satu orang menangis, yang lain menyediakan ruang untuk bersandar. Kami belajar bahwa menjadi orang tua anak Tuli bukan perlombaan untuk menjadi sempurna. Kami hanya perlu menjadi orang tua yang mau terus belajar.
Sementara itu, Udana terus tumbuh. Putra kecilku yang dahulu takut karena suaranya berbeda kini menjadi seorang pemuda yang luar biasa. Ketertarikannya terhadap animasi sudah terlihat sejak kecil. Seni pantomim dan teater membentuk kepekaan visual dan kreativitasnya. Kini ia kuliah di Jurusan Teknologi Informasi di AMIKOM Yogyakarta. Ia menekuni dunia digital, menggambar karakter, menciptakan karya, dan membangun dunianya melalui layar komputer. Anak yang dahulu takut dengan suaranya kini menemukan cara lain untuk bersuara: melalui gambar, animasi, gerakan, dan karya.
Suatu malam, ketika ia sedang menggambar karakter animasi, ia menoleh kepadaku dan memberi isyarat, “Lihat, Ibu.” Ia menunjuk layar komputernya. “Tokoh animasi ini tidak bersuara, tapi gerakannya bisa membuat semua orang menangis dan tertawa.” Ia tersenyum. “Seperti kita dulu.” Kemudian ia melanjutkan dengan bahasa isyarat, “Terima kasih sudah mau turun ke duniaku yang sepi, Ibu. Karena tangan Ibu, sekarang aku bisa melompat setinggi ini.” Aku hanya mampu memeluknya.
Dulu aku ingin Udana masuk ke duniaku. Sekarang aku mengerti, aku tidak perlu menariknya keluar dari dunianya. Aku hanya perlu datang. Mengetuk pintunya. Belajar bahasanya. Memahami cara pandangnya. Dan ketika aku membuka pintu itu, ternyata duniaku pun menjadi jauh lebih luas. Aku belajar bahwa perbedaan bukanlah tembok. Perbedaan adalah pintu menuju cara memahami kehidupan yang lain. Tuli bukan berarti tidak memiliki suara. Ada suara yang lahir dari jemari, melalui tatapan, ekspresi, dan karya. Ada suara yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi mampu mengetuk hati manusia begitu dalam.
Perjalanan bersama Udana mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu membutuhkan suara. Cinta membutuhkan kemauan untuk memahami, kerendahan hati untuk belajar, dan keberanian untuk mengenal bahasa yang sebelumnya tidak pernah kita kenal. Cinta membutuhkan satu hal sederhana: Saling. Saling memberi. Saling menerima. Saling menguatkan. Saling mendengarkan. Saling memahami.
Kini aku tahu, tanganku bukan sekadar tangan. Tanganku adalah mulut ketika seseorang membutuhkan suara. Tanganku adalah telinga ketika seseorang ingin didengar. Tanganku adalah jembatan ketika dua dunia kesulitan bertemu.
Aku masih belajar. Aku masih sering salah dan memiliki banyak keterbatasan. Tetapi sekarang aku tidak lagi takut terhadap perbedaan. Setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk berbicara kepada dunia. Tugas kita bukan menentukan suara seperti apa yang harus mereka miliki. Tugas kita adalah menyediakan ruang agar suara itu dapat didengar.
Udana telah menunjukkan kepadaku bahwa seseorang tidak harus mendengar dunia untuk dapat menaklukkannya. Ia membutuhkan kesempatan. Ia membutuhkan penerimaan. Ia membutuhkan akses terhadap informasi. Ia membutuhkan orang-orang yang percaya kepadanya. Dan yang paling penting, ia membutuhkan orang-orang yang bersedia berkata, “Aku percaya kamu bisa.”
Kini, ketika melihat Udana menekuni dunia animasi dan teknologi, aku tidak lagi melihat seorang anak yang berbeda. Aku melihat seorang manusia yang sedang membangun dunianya sendiri. Aku melihat seorang pemuda yang memiliki mimpi.
Jika dahulu aku tidak belajar bahasa isyarat, mungkin aku hanya akan mengenal sebagian kecil dari dirinya. Namun aku memilih untuk belajar. Dan ketika aku belajar mendengar dengan hati, Udana menemukan keberanian untuk berbicara dengan caranya sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan kami bukan tentang bagaimana membuat dunia menjadi sama, tetapi bagaimana membuat setiap orang merasa memiliki tempat yang sama di dalamnya.
Dulu aku takut dengan sunyi. Kini aku tahu, sunyi tidak selalu berarti kosong. Kadang, di dalam sunyi, ada cerita yang begitu kaya. Ada mimpi yang begitu besar. Ada cinta yang begitu dalam. Dan ada jemari yang sedang berbicara. Aku hanya perlu belajar mendengarnya.

Iies Arum Wardhani
Iies Arum Wardhani, ibu 3 orang anak–1 Tuli, 2 Dengar– berprofesi sebagai perawat dan Juru Bahasa Isyarat di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Sardjito Yogyakarta. Penggagas Komunitas Keluarga Bisindo, Member of emak-emak Ba(Wa)yang.
Baca Biografi Selengkapnya →