Dongeng dari Perancis: Patriot Cilik
October 15, 2026 · Charles Deulin
Sukusastra-Bulan Juni 1859 menjadi saksi kemenangan besar dalam perang Solferino. Pada suatu pagi yang cerah, seorang Kapten Kavaleri memimpin pasukannya melewati jalanan desa yang sepi.
Di pinggir jalan, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun sedang asyik bermain. Ia sibuk membuat tongkat komando dari sebatang kayu kecil yang ia temukan di tanah.
Saat pasukan berkuda lewat di depannya, bocah itu langsung berdiri tegak. Ia membuka topinya dengan sopan untuk memberi hormat kepada para tentara.
Melihat ada anak kecil di daerah rawan, sang kapten merasa heran. Beliau lalu bertanya mengapa bocah itu tidak ikut mengungsi bersama keluarganya.
Bocah itu menjawab bahwa ayahnya masih berjuang di medan perang. Sementara itu, ibu dan saudaranya yang lain sudah mengungsi ke tempat yang aman.
Ia sengaja tinggal untuk menjaga rumah mereka yang sederhana. Selain itu, ia juga ingin membantu para prajurit yang sedang berjuang.
Bocah tersebut bahkan menawarkan persediaan jagung milik ayahnya kepada sang kapten. Kapten menolak dengan halus, tetapi beliau sangat kagum pada kebaikan sang bocah.
Kapten kemudian bertanya apakah anak itu melihat musuh lewat di sana. Bocah itu menjawab bahwa musuh sudah dua hari tidak terlihat.
Sang kapten merasa curiga karena desa ini adalah jalur utama pelarian musuh. Beliau ingin memeriksa keadaan sekitar, tetapi tempat pengintaian mereka kurang tinggi.
Kapten lalu meminta bantuan si bocah untuk memanjat pohon yang tinggi. Beliau yakin musuh tidak akan tega menembak seorang anak kecil.
Dengan penuh semangat, bocah itu langsung menerima tugas penting tersebut. Ia merasa bangga bisa membantu tentara negaranya yang sedang berjuang.
Bocah itu memanjat dahan demi dahan pohon besar dengan sangat lincah. Dalam sekejap, ia sudah sampai di puncak pohon yang tinggi.
Sayangnya, daun di puncak pohon itu ternyata sangat tipis. Tubuh bagian atas si bocah terlihat jelas dari kejauhan.
Kapten berteriak dari bawah dan memintanya melaporkan pandangannya. Bocah itu melihat dua penunggang kuda berjalan ke arah mereka.
Ia juga melihat kilauan senjata tajam di sebelah kanan. Tiba-tiba, terdengar suara tembakan yang sangat nyaring mengarah ke pohon itu.
Kapten panik dan menyuruh bocah pemberani itu untuk segera turun. Namun, bocah itu tetap bertahan untuk melihat situasi di sebelah kiri.
Ia melaporkan bahwa ada pasukan musuh di dekat gereja tua. Bersamaan dengan itu, sebutir peluru kembali melesat dan mengenai dadanya.
Tubuh mungil bocah itu jatuh dari atas pohon yang tinggi. Kapten segera berlari dan menangkap tubuhnya dengan perasaan sangat sedih.
Kapten menangis dan meminta maaf karena telah memberi perintah yang berbahaya. Bocah itu tersenyum lemah dan mengatakan ia bangga bisa membela negaranya.
Bocah pemberani itu akhirnya meninggal dunia dengan tenang di pelukan sang kapten. Ia adalah pahlawan sejati yang rela berkorban demi tanah airnya.
Pesan moral dari cerita ini adalah tentang keberanian, cinta tanah air, dan ketulusan dalam membantu sesama. Sifat rela berkorban demi kepentingan orang banyak merupakan wujud nyata dari jiwa pahlawan. Kita harus selalu memiliki semangat patriotisme dan berani membela kebenaran dalam kehidupan sehari-hari demi kedamaian bersama.
Charles Deulin
Profil penulis Charles Deulin lahir di Condé-sur-l'Escaut.
Baca Biografi Selengkapnya →