Dongeng Hans Christian Andersen : Putri Bungsu jadi Manusia
September 29, 2026 · Hans Christian Andersen
Sukusastra-Dahulu kala, hiduplah enam putri laut yang sangat cantik. Mereka adalah anak dari raja laut dan ratu laut yang telah meninggal dunia. Kini, keenam putri tersebut diasuh oleh nenek mereka yang sangat bijaksana.
Bentuk tubuh para putri ini sangat unik dan indah. Tubuh bagian atas mereka mirip dengan manusia biasa. Namun, bagian kaki mereka berbentuk ekor ikan yang bersisik indah.
Nenek memberi tahu sebuah aturan penting kepada para cucunya. Mereka baru boleh pergi melihat permukaan laut setelah berusia lima belas tahun. Setiap kakak perempuan sang putri selalu menceritakan pengalaman mereka yang seru.
Putri bungsu mendengarkan semua cerita itu dengan penuh rasa kagum. Ia menyimpan setiap kisah indah para kakaknya di dalam ingatan.
Akhirnya, waktu yang dinanti oleh putri bungsu pun tiba.
Pada suatu malam, putri bungsu berenang ke permukaan laut yang tenang. Ia melihat sebuah kapal besar yang dihiasi lampu warna-warni dari kejauhan. Putri bungsu segera berenang mendekati kapal megah tersebut.
Melalui jendela kaca kapal, ia melihat banyak orang sedang menari. Di antara kerumunan itu, ada seorang pemuda yang sangat tampan.
Pemuda itu ternyata adalah seorang pangeran bernama Henry.
Sejak malam itu, wajah pangeran tampan selalu ada di pikiran putri bungsu. Ia bahkan sering diam-diam berenang menuju pantai di dekat kastil putih. Kastil megah tersebut adalah tempat tinggal Pangeran Henry.
Suatu hari, Pangeran Henry pergi melaut bersama para pelayannya. Tiba-tiba saja, langit berubah gelap dan badai besar datang menerjang.
Kapal Pangeran Henry terbalik akibat dihantam ombak yang sangat kuat.
Putri bungsu yang melihat kejadian itu segera berenang dengan cepat. Ia berhasil menyelamatkan Pangeran Henry yang hampir tenggelam di laut. Putri bungsu membawa tubuh pangeran ke tepi pantai yang aman.
Setelah memastikan pangeran selamat, putri bungsu kembali ke dalam laut. Keinginan putri bungsu untuk menjadi manusia kini menjadi semakin kuat. Ia memutuskan untuk menemui penyihir laut yang sangat sakti.
Penyihir laut bersedia membantu dengan memberikan sebuah ramuan ajaib. Namun, ada syarat berat yang harus diterima oleh putri bungsu. Ramuan itu akan mengubah ekor ikannya menjadi sepasang kaki manusia.
Sayangnya, ramuan itu akan membuat putri bungsu kehilangan suara indahnya. Putri bungsu juga akan merasakan sakit yang luar biasa saat berjalan. Meski begitu, sang putri tetap setuju demi cintanya.
Putri bungsu membawa ramuan itu ke daratan lalu meminumnya dengan berani. Perlahan-lahan, ekor ikannya berubah menjadi sepasang kaki manusia yang cantik. Rasa sakit yang sangat hebat langsung menyerang tubuhnya.
Pangeran Henry akhirnya menemukan gadis bisu yang cantik itu di pantai. Pangeran merasa sangat akrab dan jatuh cinta pada kebaikan hatinya. Mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bahagia bersama di kastil.
Kasih sayang yang tulus membutuhkan pengorbanan dan keberanian yang besar demi kebahagiaan orang lain. Selain itu, kebaikan hati dan ketulusan jiwa jauh lebih berharga daripada sekadar kata-kata. Sifat penolong tanpa pamrih akan selalu membuahkan kebahagiaan sejati pada waktu yang tepat bagi siapakah saja.
Hans Christian Andersen
Profil penulis Hans Christian Andersen.
Baca Biografi Selengkapnya →