Dongeng dari India : Dua Pedagang
September 22, 2026 · Anonim
Sukusastra-Di kota Sultanpur, ada dua orang pedagang yang tinggal bersebelahan. Rumah mereka hanya dipisahkan oleh sebuah tembok yang tipis. Mereka menjual barang yang sama, yaitu perkakas dari besi kuningan.
Meskipun bertetangga, sifat kedua pedagang ini sangatlah berbeda. Pedagang pertama memiliki hati yang jujur dan sangat baik. Sementara itu, pedagang kedua memiliki sifat yang sangat serakah.
Mereka berdua belum mampu menyewa kios di pasar kota. Oleh karena itu, mereka menjajakan barang dengan berjalan kaki berkeliling.
Mereka berjalan dari lorong ke lorong setiap hari.
Suatu hari, pedagang yang serakah berteriak menawarkan barang dagangannya. Seorang nenek tua yang mendengar teriakan itu lalu keluar rumah. Nenek itu membawa sebuah mangkuk usang milik cucunya.
“Apakah kamu mau menukar mangkuk lama ini dengan alat makan baru?” tanya si nenek.
Pedagang serakah itu terkejut saat memeriksa mangkuk tua tersebut. Ia tahu bahwa mangkuk itu terbuat dari emas murni. Namun, sifat serakahnya langsung muncul karena ingin untung besar.
“Mangkuk jelek ini hanya bisa ditukar dengan sebuah sendok,” bohong pedagang serakah.
Nenek itu merasa sangat sedih mendengarnya dan langsung menolak. Cucunya pasti akan menangis jika hanya mendapatkan sebuah sendok baru. Pedagang serakah itu pun pergi dengan perasaan kesal.
Tidak lama kemudian, pedagang yang jujur lewat di depan rumah nenek. Nenek itu memandangnya dengan ragu karena takut dihina lagi.
Pedagang jujur yang ramah itu langsung menghampiri sang nenek.
“Ada apa, Nek? Kenapa memandangi saya seperti itu?” tanya pedagang jujur.
Nenek itu menceritakan kejadian kurang menyenangkan dengan pedagang sebelumnya. Pedagang jujur lalu meminta izin untuk melihat mangkuk usang tersebut. Ia pun sangat terkejut setelah meneliti mangkuk itu.
“Mangkuk ini sangat mahal karena terbuat dari emas murni, Nek,” ujar pedagang jujur.
Nenek itu terkejut sekaligus terharu mendengar kejujuran sang pedagang. Pedagang jujur mengaku tidak punya cukup uang untuk membeli mangkuk emas itu. Nilai mangkuk tersebut jauh lebih besar dari seluruh barang dagangannya.
“Berikan saja semua barang dagangan dan uang yang kamu punya saat ini,” kata nenek.
Nenek itu merasa kasihan pada cucunya dan menghargai kejujuran pedagang tersebut. Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk melakukan pertukaran barang yang adil. Pedagang jujur memberikan seluruh perkakas dan sisa uangnya kepada nenek.
Di tempat lain, pedagang serakah merasa menyesal karena menawar terlalu rendah. Ia memutuskan kembali ke rumah nenek untuk memberikan penawaran baru. Namun, nenek yang sudah tahu kelakuannya langsung mengusir pedagang serakah itu.
Kejujuran selalu membawa keberkahan dan keuntungan yang baik dalam kehidupan kita. Sifat serakah hanya akan merugikan diri sendiri dan membuat orang lain menjauh. Sifat tulus dan jujur dalam bekerja membuat kita dihormati serta dipercaya sesama. Keuntungan materi tidak ada artinya jika didapatkan dengan cara membohongi orang lain yang membutuhkan.