Lewati ke konten

Dongeng Hans Christian Andersen : Putri Duyung

August 19, 2026 · Hans Christian Andersen

Sukusastra-Jauh di dasar lautan yang tenang, terdapat sebuah istana megah tempat tinggal para putri duyung. Di sana, seorang nenek hidup bersama lima cucunya yang cantik jelita. Mereka menghabiskan waktu bermain dengan riang setiap hari. Sang nenek berjanji bahwa mereka boleh mengunjungi permukaan laut saat berusia lima belas tahun.

Putri bungsu adalah yang paling cantik dengan suara yang sangat merdu. Karena paling muda, ia harus menunggu paling lama untuk naik ke atas. Setiap kakaknya kembali, ia selalu menceritakan keindahan dunia di atas sana. Keinginannya untuk melihat dunia manusia pun menjadi sangat kuat.

Saat hari ulang tahun kelimanya tiba, ia segera berenang menuju permukaan laut. Ia melihat sebuah kapal besar yang sedang mengadakan pesta ulang tahun seorang pangeran. Ia terpana melihat ketampanan sang pangeran dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun, badai tiba-tiba datang menghantam kapal hingga tenggelam ke dasar laut. Putri duyung tidak tega melihat pangeran yang tidak berdaya di air. Ia segera menolong sang pangeran dan membawanya hingga ke tepian pantai.

Saat pangeran sadar, seorang gadis lain datang dan dianggap sebagai penyelamatnya. Putri duyung merasa sangat sedih karena tidak bisa menjelaskan kebenarannya. Ia kembali ke istana dan meminta bantuan seorang penyihir laut yang sakti.

Penyihir itu menawarkan pertukaran ekor dengan sepasang kaki manusia. Namun, setiap langkah yang diambil akan terasa seperti menginjak pisau tajam. Jika pangeran menikah dengan orang lain, ia akan berubah menjadi buih laut.

Putri duyung juga harus menyerahkan suara indahnya sebagai syarat ramuan ajaib. Ia menyanggupinya dan lidahnya pun dipotong oleh penyihir laut. Ia pun meminum ramuan itu dan terbangun di pantai dengan sepasang kaki.

Pangeran menemukan gadis cantik itu dan membawanya ke istana kerajaan. Sang pangeran sangat menyukainya, namun hatinya tertambat pada gadis yang dulu menemukannya di pantai. Hati putri duyung teriris perih saat pernikahan pangeran dan gadis itu akhirnya dilaksanakan.

Di pesta pernikahan, saudara-saudaranya datang membawa pisau pemberian penyihir. Mereka menyuruh putri duyung membunuh pangeran agar bisa kembali ke wujud duyung. Putri duyung pun memasuki kamar pangeran dengan membawa pisau tajam.

Namun, ia sangat mencintai pangeran sehingga tidak sanggup melukainya sedikit pun. Ia membuang pisau itu ke laut dan pasrah menerima nasibnya sendiri. Saat matahari terbit, tubuhnya perlahan berubah menjadi buih putih di lautan.

Pesan Moral / Hikmah Cerita

Cinta sejati sering kali menuntut pengorbanan yang sangat besar tanpa mengharapkan balasan apa pun. Ketulusan hati berarti mendahulukan kebahagiaan orang yang kita cintai, meskipun harus merelakan diri sendiri. Keberanian untuk berbuat baik dan kesetiaan adalah nilai kemanusiaan yang tertinggi, meskipun akhirnya harus menerima takdir dengan lapang dada.

Hans Christian Andersen

Profil penulis Hans Christian Andersen.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.