angin menyisakan makara di gerbang tanpa nama. seorang Mpu bertapa, di sudut relief. seperti aksara. seperti siapa saja.
Arsip
angin menyisakan makara di gerbang tanpa nama. seorang Mpu bertapa, di sudut relief. seperti aksara. seperti siapa saja.
ketika seseorang berbisik, “pamursitanira mpu kusuma” dari abad-abad yang jauh antara Jawa dan Swarnadwipa
bukan doa yang diucapkan agar malam tak lekas padam dari peraduan melainkan segala kenangan yang memenangkan seluruh pertarungan
gema dupa digantikan azan sebatang durian bergeming, makara yang hilang seperti karma masa silam yang harus ditebus ribuan mantra
Ke sebuah hilir yang keruh, gemuruh Batang Merangin berpiuh dengan batu-batu lalu jatuh dalam sepucuk embun.