Dongeng Brothers Grimm : Kakek dan Cucunya
September 1, 2026 · Brother Grimm
Sukusastra-Dahulu kala, hiduplah seorang kakek yang sudah sangat tua. Mata kakek sudah rabun dan telinganya pun sudah kurang mendengar. Kedua lututnya selalu gemetar saat beliau berjalan.
Saat duduk di meja makan, kakek sering kesulitan memegang sendok dengan bernar. Sup yang ia makan sering tumpah ke taplak meja. Hal ini membuat anak laki-laki dan menantunya merasa sangat kesal.
Mereka akhirnya membuat sebuah sudut khusus di dapur untuk tempat makan kakek. Kakek hanya diberi makan sedikit dalam sebuah mangkuk tanah liat. Kakek merasa sangat sedih dan sering menangis sendirian di sana.
Suatu hari, tangan kakek yang gemetar tidak sengaja menjatuhkan mangkuk makannya. Mangkuk tanah liat itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Menantunya menjadi sangat marah dan memarahi kakek dengan kata-kata yang kasar.
Kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela napas panjang. Setelah kejadian itu, mereka membelikan kakek sebuah piring dari kayu yang murah. Kini, kakek terpaksa makan menggunakan piring kayu tersebut setiap hari.
Beberapa hari kemudian, anak dan menantunya melihat anak mereka yang baru berusia empat tahun. Anak kecil itu sedang sibuk mengumpulkan potongan kayu di lantai dapur. Ayahnya merasa penasaran lalu bertanya tentang apa yang sedang anaknya lakukan.
Anak kecil itu tersenyum lalu menjawab dengan polos. Ia berkata bahwa ia sedang membuat sebuah piring kayu kecil. Piring itu nantinya akan digunakan untuk memberi makan ayah dan ibunya saat ia sudah dewasa.
Mendengar perkataan sang anak, kedua orang tua itu langsung terdiam dan saling berpandangan. Mereka menyadari kesalahan besar yang telah mereka lakukan kepada kakek. Air mata mereka mulai menetes karena merasa sangat menyesal.
Sejak malam itu, mereka kembali mengajak kakek untuk makan bersama di meja makan utama. Mereka selalu memperlakukan kakek dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. Mereka tidak pernah marah lagi meskipun kakek menumpahkan makanan.
Hormati dan sayangilah orang tua yang telah merawat kita dengan tulus. Apa yang kita lakukan kepada orang tua hari ini akan menjadi contoh bagi anak-anak kita di masa depan. Berbakti kepada orang tua adalah wujud kasih sayang sejati yang akan mendatangkan kebahagiaan dalam keluarga.