Langit masih sewarna kertas buram dan daun-daun masih mengguyurkan sisa hujan yang tak seberapa. Dingin menguasai setiap sudut Liema Kitchen and Venue, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta itu.
Warta Suku Sastra
Menyajikan kabar terbaru seputar sastra, seni, kebudayaan, informasi kompetisi, serta agenda komunitas sastra tanah air.
Langit masih sewarna kertas buram dan daun-daun masih mengguyurkan sisa hujan yang tak seberapa. Dingin menguasai setiap sudut Liema Kitchen and Venue, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta itu.
Arif Billah memiliki bakat, antusiasme, dan kemauan untuk kerja keras. Karenanya, hanya dalam dua tahun ia mampu menghimpun keberanian untuk menerbitkan antologi puisi pribadi yang tidak bisa dipandang sepele.
Kini, Suku Sastra membuka diri untuk masyarakat. Mulai tahun depan, Suku Sastra juga diharapkan dapat memberikan honorarium bagi para penulis yang dimuat di situs web sukusastra.local/.
Marisa memandang masalah dalam kritik sastra Indonesia saat ini adalah kecenderungan dalam karya kritik sastra, terutama yang beredar di jurnal akademik, untuk melompat langsung ke kritik sosial. Tidak banyak yang melihat sisi estetika, struktur bahasa, tokoh-tokoh, alur, latar dan lain-lain. Kritik akademik memang sudah banyak, tetapi kritik sastra disajikan mirip esai, tetapi memakai perspektif, mati suri.
Antusiasme menyebabkan kami, baik panitia maupun peserta, alpa tidak membuat catatan harian kegiatan pertemuan VI hingga VIII. Tidak bisa dihindari: draf cerpen dan kritik makin jelas wujud akhirnya setelah lima pertemuan dengan narasumber ahli dan asistensi Suku Sastra.
Dalam melakukan kerja kritik, Pak Yapi menyebut adanya kemungkinan untuk subjektivitas, terutama ketergetaran yang terasa setelah membaca sebuah karya. Sehingga, pengungkapan kritik bisa dilakukan melalui bentuk esai, tidak melulu artikel jurnal ilmiah.
Namun, dengan sesekali tepukan tangan mengusir nyamuk, para peserta khidmat menyimak. Terkadang mereka menelan ludah, bersiap menanti giliran sebagai “pasien”. Iya, hari itu mirip dengan sesi konsultasi ke klinik. Prof. Faruk selaku dokter (mungkin merangkap psikolog), dan kami antre seperti pesakitan sastra.
Mbak Ayda memberikan pengantar tentang bentuk-bentuk eksperimental dalam karya-karya prosa fiksi yang telah ada sebelumnya. Dijelaskan bagaimana karya yang pada mulanya bersifat eksperimental memasuki arus utama setelah muncul karya-karya serupa dari waktu ke waktu.
Setelah asistensi oleh Suku Sastra di Pertemuan II dan Pertemuan III, para peserta merasa akan lebih mantap kalau Bang Raudal membimbing lagi. Untungnya, Pertemuan IV tetap bisa dilaksanakan di homestay The Ratan.