Setiap kali kau menari, akulah yang merayu para perdu hingga meranggas bunga-bunganya.
Arsip
Setiap kali kau menari, akulah yang merayu para perdu hingga meranggas bunga-bunganya.
Ada ledak-ledak lagu lawas bersahutan dengan petir dan guntur, sesekali memanggil penyiar yang kabur bersama hujan.
Kupandang tawang yang memerah. Perlahan, rintik-rintik kenangmu menghujaniku: Kita pernah menyambut senja di dermaga.
Tapi, di sanalah kau, bagaikan seorang buta tuli terus memintaku pulang tanpa sekali pun kau sambut jala yang hendak membawamu berlayar