Keduanya menghindar dari pilu yang berlarian dan sesak tanpa bentuk, tak berkesudahan. Mata-mata mereka memata-matai sekitar. Mereka ingin sekali mengingat sesuatu, tetapi yang ada hanya gelap. Ini hitam, merah, bau, dan basah. Hanya kebekuan malam yang mereka rasa dan keberisikan tikus tanah yang rumahnya rusak dihujam gemuntur sampai lebur.
Profil Tokoh & Penulis
Mimah Nur Baiti
Mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Lahir di Bandung, 2004. Karyanya terpilih untuk diterbitkan di dalam antologi bersama Seribu Kisah: Sebuah Kasih (2022) dan juara 1 lomba cerpen terbaik tingkat prodi di Universitas Pendidikan Indonesia (2023).
Mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Lahir di Bandung, 2004. Karyanya terpilih untuk diterbitkan di dalam antologi bersama Seribu Kisah: Sebuah Kasih (2022) dan juara 1 lomba cerpen terbaik tingkat prodi di Universitas Pendidikan Indonesia (2023).